Pulang dari ngejenguk temen yang baru melahirkan, gue mampir Pasar Baru. Penasaran juga gue pengen tahu tempat huntingnya brush anak Fashionese Daily. Konon kabarnya di sana ada tempat jualan brush (kuas) yang bagus tapi nggak mahal.
Terus terang gue termasuk perawan tong-tong soal berburu kosmetik di Pasar Baru. Gue nggak tahu toko mana yang bagus. Udah gitu, gue seperti datang di waktu yang salah. Sabtu sore dan suasananya ramai sekali. Hampir toko kosmetik yang ada penuh terisi pelayan. Bahkan gue kesulitan mengambil perhatian pelayannya (should I throw stones at them?) Akhirnya gue memutuskan untuk cari toko yang lumayan sepi dan gue menemukannya di dalam. Finally, ada pelayan yang sadar akan keberadaan gue.
"Cari apa, mbak?"
Weih... baiklah. I'll try my luck here. Iseng gue tanya punya brush Ariwani gak (seingat gue dibilangin ini bagus dan mumer) Ternyata ada dan satu set harganya 400rb. BUJUBUNE! Emang sih dapat sekitar 24 kuas, tapi dengan kantong gue yang terbatas, aduh... bener-bener out of budget, deh. Akhirnya gue memutuskan untuk menunda dan pindah ke toko sebelahnya.
"Mbak, jual kuas Ariwani gak." "Yah kalau kuas Ariwani ya yang jual cuma Ariwani saja." "Lah emang tokonya di mana." "Situ." Dia tunjuk toko di sebelahnya. Lah, itu kan toko yang baru saja gue masukin. Dodol.
Akhirnya, karena gue 'malu' kembali ke toko yang baru saja gue masukin, gue ke toko Ariwani lainnya. Untungnya dia punya counter lain. Pilihan kuasnya ternyata banyak banget. Mulai dari yang satu set 50rb, 100rb, 250-an, sampai 400rb. Di sana, akhirnya gue memutuskan untuk beli mini setnya brush Bobbi Brown hanya dengan 150rb. Tentulah itu palsu.Orang setahu gue setidaknya harganya 500rb. Akan tetapi, gue tetap ngambil karena bentuknya yang imut, mungil dan halus di tangan.
Sepanjang jalan, gue ngebuka bungkusnya, ngeraba-raba kuasnya. Seakan-akan gue tuh penyihir yang berhasil menemukan tongkat ajaib. Bahkan pas gue dikunci di luar sama bokap gue yang lagi pergi ke mesjid dan dipaksa nunggu selama setengah jam, gue nggak peduli. Gue mainan brush (tentulah dengan ditemani kucing gue).
Meskipun terdengar dream comes true, nyatanya mimpi ini mulai retak ketika gue mencuci brush baru gue. Gue menemukan bahwa brush itu rontok. Halus sih halus, tapi apa gunanya kalau bulunya malah pada nempel di muka? Tapi gue cuma tertawa dalam hati. Lah namanya juga barang palsu, what do you expect? PS: Brushnya kayak di foto, tapi minus wadah pinknya yang cantik itu, tentunya.
Kenapa sih gue selalu menginginkan yang gak ada atau susah di dapat? Sebagai contoh: waktu kemarin-kemarin ada yang nawarin pre order Coastal Scents, gue selalu mikir. Ah, nanti aja. Nanti aja. Gampang tinggal order. Sekarang? Begitu udah tutup orderannya malah kepengen. Begitu juga pas kemarin-kemarin gue naksir berat sama koleksi MAC Electroflash sama MAC Sonic Chic. Berkali-kali ngintipin previewnya di Spektra sambil berharap-harap cemas kapan bisa masuk Indonesia. Begitu ada yang nawarin pre order, gue cuma ngambil satu. Sama juga dengan kasusnya Narcisso Rodriguez for her. Dari dulu naksir banget sama parfum ini (walaupun wujudnya belum tahu). Tapi begitu tahu sudah masuk Indonesia. Ealah, jalan ke Plaza Senayan aja males. Dasar orang aneh.
Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat saya pulang dari body balance di Plaza Semanggi. Saya berdiri di dekat flyover UKI sembari menanti T58 yang nggak muncul-muncul juga. Meskipun saya baru saja selesai dari olahraga, badan saya tidak merasa fresh. Mungkin karena otak saya penuh dengan pikiran. Mungkin juga karena siangnya saya mendapat teguran dari atasan dan saya sedang mempertanyakan banyak hal dalam hidup saya. Saat itulah kemudian saya menangkap sesuatu tergantung tak jauh dari tempat saya berdiri. Tali putih? Rafia? Siapa yang memasang tali rafia di tempat aneh seperti ini? Untuk memasang apa? Saya mengamati lebih lanjut. Mata saya mengikuti tali itu hingga ke ujungnya di atas sana. Oh, my! Bukan tali! Akar! Ini adalah akar pohon!
Saat itu, saya merasa takjub. Di atas saya yang merupakan flyover, berdiri sebuah pohon dengan akarnya menjuntai hingga melewati pipa. Akar yang luar biasa panjang (menurut saya) untuk pohon yang begitu kecil. Posisi pohon itu bahkan aneh menurut saya. Di atas (atau di samping) pipa yang jelas-jelas bukanlah tempat yang bagus untuk hidup pohon. Akan tetapi, pohon itu tetap hidup. Dengan segala kesulitan ia tetap bertahan hidup.
Pada saat itu, saya sedikit malu pada pohon itu. Look at him (or her). Pohon yang hidup di tempat aneh itu saja tetap bertahan hidup. Dia nggak mengeluh (emang pohon bisa mengeluh? he..he..). Dia hanya menjalani dan bertahan hidup.
Saya tersenyum kecut pada diri sendiri. Apa yang saya jalani apa bisa dibandingkan dengan dia? Dia tidak bisa ke mana-mana. Dia hanya bisa di situ, mencari apa yang di sekitarnya dan bertahan apa adanya. Sedangkan saya?
Saya tidak berlama-lama di tempat itu (masa mau semalaman di situ, nek?) Saya menghentikan sebuah mikrolet. Saya merasa lebih baik sekarang.
Sebenarnya, saya bukan tipe orang yang terlalu peduli sama pulsa telepon.Makanya saya cuek saja ketika suatu hari saya mendapat SMS dari Iguana yang isinya berupa link download. Padahal saya tidak pernah request link tersebut (oke, dulu saya memang pernah mengunduh konten dari Iguana). Hal itu terjadi terus menerus (dan terus menerus tidak pernah saya pedulikan) hingga suatu saat, pulsa saya yang tinggal 5.000 mendadak hangus lantaran kedatangan si Iguana ini. What the f***!
Kesadaran saya langsung bangkit. Saya langsung begerilya, mencari jalan untuk cabut dari layanan ini. Untung kemudian saya tersandung di sini, http://www.bennykeren.com/2008/01/09/gw-ditipu-iguana-sms-buset-dahh/
Di situ terjadi perbincangan yang seru tentang Iguana SMS. Mulai dari yang nggak dapat konten yang diinginkan sampai 'dipaksa' langganan seperti saya. Saya seperti menemukan teman senasib. Untungnya juga ada pihak Iguana SMS yang ikutan berbaur. Untungnya pula, orangnya sabar (memang CS harusnya seperti itu, kan?) Saya akhirnya ikutan mengemail beliau dan hari ini sudah dapat jawabannya.
Harap tunggu 1X24 jam ya mbak, setelah itu mbak tidak akan terima sms mingguan dari kami lagi. Terima kasih, karena anda pernah bergabung & menggunakan layanan kami.
Oh, ya. Kalau ingin unreg Iguana SMS juga, bisa telpon CSnya di 0215680605 atau kirim lewat email: lelly@iguanatechnology.com atau cust_service@iguanatechnology.com. Jangan lupa kasih tahu no telp kamu.
Kadang-kadang counter kecantikan yang ada di mall dan supermarket nggak cukup buat kita. Entah mbak-mbaknya terlalu agresif dan bikin bete, entah kita yang merasa dipush mbaknya untuk push up, eh.. beli. Untungnya selalu ada internet. Untuk kamu yang bosan (atau setidaknya kurang puas) dengan counter kecantikan di mall atau ingin mencoba skincare yang baru, ini ada beberapa perawatan kulit alternative yang mungkin hanya dapat kamu temukan di internet. Jangan khawatir, semuanya bisa dibeli di Indonesia. 1. Alessa Skin Carehttp://www.alessaskincare.blogspot.com/Satu lagi skin care yang ditawarkan melalui internet dengan harga lumayan terjangkau. Range harganya ada di antara Info Kulit dan Blossoms. Alessa menawarkan produk perawatan untuk muka, badan, dan rambut. Ia juga punya paket pemutih wajah, perawatan jerawat, aging, dan lain-lain. Menurut Alessa, produknya tidak mengandung alkohol dan wewangian. Point plus dari saya. Balasan konsultasi dari Alessa cepat dan baik. Sayangnya Alessa tidak menawarkan paket stater dengan alasan produknya tidak jual secara massal. Jika tertarik, coba hubungi: femmy@jmindonesia.com jika tertarik. 2. Blossoms Kosmetikhttp://www.blossoms-asia.com/http://jarnawi.multiply.com/journal/item/5Blossoms adalah the latest rave in Fashionese Daily, salah satu forum nongkrong ibu-ibu. Harganya murah, hasilnya mengagumkan. Kosmetik yang berasal dari Thailand dan berbasis di Bandung ini menarik lantaran mampu membuat wajah pemakainya kinclong dalam waktu cepat. Sudah terdaftar di BPOM. Meski merupakan MLM, kita tidak harus jadi member untuk mendapatkannya. Blossoms juga menyediakan paket stater, jadi tidak perlu beli botol besar untuk mencobanya. Respon emailnya cukup bagus. 3. Ciel Mineral
www.cielminerals.com Ingin memakai kosmetik mineral yang heboh di luar negeri tapi tidak pernah kesampaian dan hanya bisa ngiri lantaran tidak tersedia di sini? Ciel Mineral mungkin bisa jadi jawabannya. Produk yang dibuat oleh orang Indonesia ini menawarkan kosmetik mineral. Meski harganya tidak bisa dibilang murah, namun bisa jadi alternatif untuk para pencari kosmetik mineral. Menariknya, Ciel menawarkan paket sampel. Kita hanya diminta mentransfer sejumlah uang sebagai gantinya. 4. Info Kulithttp://infokulit.com/Info Kulit bermula ketika penciptanya, (Jasin Tanuwijaya) ingin menyediakan sebuah fasilitas yang cost efektif dalam dunia perawatan serta menjaga kealamian dan kecantikan kulit. Produk yang ditawarkan beragam dan harganya sangat terjangkau. Sayangnya, respon emailnya tidak bagus. Katanya dua minggu baru dibalas. Dan hingga hari ini email saya tidak dibalas. Dengan persaingan kosmetik melalui internet yang mulai memanas, apakah itu bagus? 5. MRChttp://www.skincarebymrc.com/Konon kabarnya ibu Ani SBY dan Saiful Jamil memakai MRC. MRC mendapat perhatian ibu-ibu di Fashionese Daily lantaran harganya yang selangit. Jika bersedia mengeluarkan uang 300 dollar (yup memang pakai dollar) untuk paket staternya, coba saja. 6. Paula's Choice http://www.paulaschoice-indo.com/Paula/Paula Begoun adalah pengarang dan penerbit dari beberapa buku best-seller di industri kecantikan. Ia banyak membuka 'praktek kotor' dunia industri kosmetik dan sebagai alternatifnya, menyediakan kosmetik yang bebas alkohol dan wewangian. Ia juga berusaha menyediakan dengan harga terjangkau (menurut standar sana tentunya). Salah satu pilihan yang menarik jika kulit kamu nggak tahan dengan alkohol dan wewangian seperti saya. bagusnya, Paula's Choice ngasih sampel gratis. Kamu bisa kontak: inquiry@paulaschoice-indo.com untuk konsultasi dan minta sampel. Respon CS-nya cepat dan membantu. 7. Tabita Skin Carehttp://tabitaskincare.multiply.com/Tabita skincare adalah produk kecantikan yang dapat mengatasi berbagai problem kulit seperti: jerawat,flek-flek karena matahari, pigmentasi atau warna kulit tidak rata,noda bekas jerawat, tekstur kulit yang tidak rata karena bekas jerawat dan kulit kusam. Ia menggunakan ekstrak papaya dan tidak menggunakan bahan berbahaya seperti hidroquinon dan mercuri. Tabita mengklaim elma theana, viona (istrinya eko patrio), dan ibu dewi motik sebagai salah satu pemakainya. Jika tertarik, hubungi:tabitaskin@yahoo.com
Seperti biasa, tulisan ini telat. Harusnya tulisan ini udah nongol sebelum matahari 2008 nongol. Tapi apa boleh buat. Malam tahun baru, saya teler (baca: sengaja tidur) bahkan sebelum pesta kembang api dimulai. Jam 11 malam. Benar-benar rekor untuk orang yang dua hari sebelumnya sibuk memutuskan antara memesan cake atau ice cream untuk malam tahun baru.
Anyway, tahun 2007 secara keseluruhan bukanlah tahun yang bagus buat perkembangan penulisan gue. Blog kepenulisan gue juga tersendat-sendat. Produksi cerpen dan novel lumayan... mandek. Seingat gue, satu-satunya cerpen yang akhirnya bisa sedikit dibanggakan adalah cerpen misteri anak yang akhirnya nongol di Lomba Bobo sebagai juara buntut. Setelah itu kegagalan datang berturut-turut. Pertama-tama, gue gagal di Rohto diikuti secara berbondong-bondong oleh Bango, Biokos, dan Femina.
Hal ini membuat gue sedikit khawatir. Jangan-jangan gue hanya becus bikin cerita anak-anak saja. Itu bukan hal yang buruk, sih. Cuma...ya Cuma gue pengen lebih dari itu.
Meskipun demikian, gue nggak terlalu kecewa. Beberapa ide mulai berdatangan (termasuk cerita anak) dan siap untuk dikembangkan di tahun 2008 (cuiii..... ntar juga buntut-buntutnya macet).
Gue hanya berharap tahun ini lebih bagus aja dari tahun 2007.
Cerpen saya untuk lomba Rohto akhirnya kelar. Dalam beberapa hal, saya merasa belum puas. Saya suka karakter kedua tokoh utamanya, Adam dan Mae. Saya juga suka hubungan persahabatan antara mereka. Tapi, entah kenapa saya belum sreq. Mungkin saya sedikit terburu-buru lantaran saya juga harus mengejar cerber Femina dan pada saat yang bersamaan saya harus pergi dinas ke... umm... ntar deh dikasih tahu.
Yang jelas, saya lega sudah kelar. Saya juga senang akhirnya ide cerber saya lumayan bagus. Tinggal membulatkan tekad untuk mengelarkannya saja.
Buat iseng-iseng aja.
1. Sebagai penulis, kalau kamu hanya bisa digolongkan pada satu genre saja, genre apakah itu? Misteri
2. Tapi sebenarnya kamu lebih suka menyebut dirimu sebagai penulis dengan genre..... Misteri-Fantasi-Sejarah-Roman. Binun kan?
3.Lebih suka menulis apa: novel, cerpen, puisi atau non fiksi? Novel.
4. Mana yang lebih kamu sukai (dalam menulis): buku berseri tipis-tipis atau novel setebal 700 halaman? Mungkin novel 700 halaman. Mungkin.
5. Lebih suka ikut lomba atau mengirim karya langsung ke penerbit? Sekarang lagi lebih suka ikut lomba.
6. Mana yang lebih baik: menjadi penulis dengan one hit wonder dan setelah itu menghilang atau penulis yang ketenarannya biasa-biasa aja, tapi menghasilkan banyak buku? NB: Jumlah pendapatannya sama aja. Pertanyaan susah. Tapi mungkin gue bakal milih yang one hit wonder.
7.Kalau kamu bisa menyerap kemampuan penulis lain, kemampuan siapa yang bakal kamu serap? Kemampuannya Stephen King atau Agatha Christie. Hehehe...
8. Di antara semua buku yang ada, buku apa yang kamu harap kamu yang menulisnya? Lord of The Ring.
9. Mana yang lebih menakutkan: kehabisan ide atau naskah ditolak penerbit? Kehabisan ide. Selalu ada penerbit yang lain.
10.Mana yang lebih menarik bagimu: Jadi penulis bestseller atau penulis pemenang nobel? Penulis bestseller.
12. Apa penghargaan tertinggi yang bisa diberikan dunia kepadamu (sebagai seorang penulis)? Ketika seseorang datang, tersenyum dan berkata, "terima kasih. Buku Anda sudah mengubah hidup saya."
13.Di mana tempat kamu menemukan ide terbaikmu? Di metromini.
14. Kapan waktu terbaikmu untuk menulis? Saat naik busway atau setelah semua orang tidur.
15. Apa aja 'senjata' waktu menulis? Noteblock polos dan pena. Kadang-kadang komputer, kopi, dan kucing.
Nggak terasa, sudah setengah bulan sejak gue meluncurkan program pribadi menulis. Terus terang, mungkin ini salah satu proyek pribadi terberat yang pernah saya alami, melebihi program memaksakan diri ikut olahraga atau menahan diri untuk nggak makan junk food. Bukannya saya cari alasan atau apa, tapi dengan beban kerja kantor yang semakin gila-gilaan, rasanya mempertahankan diri untuk menulis sepulang kerja menjadi suatu hal luar biasa untuk saya. Ajaibnya, dengan susah payah, saya masih bisa menulis. Memang gak sesuai dengan target yang saya buat sendiri (saya menargetkan 3 halaman satu hari), tapi sejauh ini bahkan dua halaman saja saya sudah kecapekan. Tapi, saya sudah lumayan puas. Paling nggak, menulis dua halaman lebih baik daripada nggak menulis sama sekali. Well, masih ada lima belas hari lagi sebelum deadline yang saya bikin sendiri. Meskipun deadline kantor yang sering saya langgar, sekali ini saya ingin menepati deadline yang saya buat sendiri. Moga-moga bisa. Ayo berjuanglah!
Sekitar sebulan yang lalu, saya janji pada diri sendiri untuk membuat Junowrimo (June National Writing Month) pribadi. Yang 'resmi' tentu saja adalah Julnowrimo (July National Writing Month) -yang tidak seberapa terkenal- dan Nanowrimo (November National Writing Month). Nanowrimo lebih terkenal, tapi karena masih jauh banget, gue pikir kenapa nggak gue buat ala gue sendiri? Toh nggak susah sebenarnya. Yang penting kita punya target menulis (Gue menargetkan 50.000 kata atau sekitar 3 halaman sehari). Tapi malas tetaplah malas dan beginilah jadinya.
Sekarang sudah tanggal satu tapi saya tetap saja tidak tergerak untuk menulis. Memalukan sekali.
Reminder
A reminder from your Personal Calendar: My Junowrimo Friday, June 1, 2007 through Saturday, June 30, 2007 Personal: Me
Jakarta Hari ini mulai nulis untuk program satu bulan nulis 50.000 kata. Program pribadi. target 1 hari adalah 3 halaman This event was last modifed by: dyah utami, 6 days ago
Awalnya dari sebuah email di milis penulis lepas. Isinya tentang sebuah situs yang menawarkan e-book gratis, www.kotakbuku.com. Yah, siapa sih yang pernah nolak barang gratis. Ternyata, setelah diobok-obok, situs (sebenarnya kata yang lebih tepat adalah forum) yang satu ini nggak terlalu banyak menawarkan e-book. Paling gak, yang saya cari tidak ada. Saya akhirnya malah menemukan nasihat kalau ada yang tertarik untuk self-publishing melalui Lulu. Lulu? Sapa neh? Sejauh pengamatan saya, Lulu adalah situs yang menawarkan jasa untuk mengeprint dan mendistribusikan hasil karya kita ke seluruh dunia. Berbeda dengan jasa self publishing lain yang mencharge kita sebelum buku jadi, Lulu hanya memotong 20% dari hasil penjualan. Jadi, kalau karya kamu nggak ada yang beli, kamu nggak rugi apa-apa. Cuma kalau nggak salah, sebelum dicetak, Lulu meminta proof dari kita biar ketahuan hasilnya gimana. Otomatis, biaya naskah ini tetap kita yang tanggung. Asyiknya lagi semua yang mengerjakan adalah kita. Mulai dari desain, layout, editing, sampai cover. Lulu cuma menerima file naskah dan cover dan kemudian mencetaknya. Sekilas, caranya juga nggak ribet. Dan kalau dilihat dari review yang ada, situs ini menjanjikan banget. Oh, ya. Untuk tambahan, Lulu nggak cuma menyediakan jasa percetakan buku, tapi juga bikin CD, Kalender, Photo Book, dan brosur. Walaupun saat ini, saya belum memiliki naskah untuk 'dimainkan' di Lulu, saya tertarik dengan konsepnya dan suatu saat nanti pasti mencoba. Saya cuma berharap situs semacam ini ada di Indonesia. Lagipula, rasanya aneh aja jualan buku Indonesia kok di Amerika. Lah, sapa juga yang mo beli? Oh, ya. Ada yang udah pernah nyoba pakai Lulu?
Siapa sahabat terbaik manusia? Tentu saja, anjing. Tapi, siapa sahabat terbaik penulis selain Ms. Word, Ctrl+H, dan editor (ehm)? Tentu saja kucing. Ini bukan karena gue pecinta kucing, ya. Tapi karena memang dalam sejarah banyak sekali penulis yang mencintai kucing. Ini beberapa daftar penulis yang mencintai kucing: - Mollie Hardwick [1916-2003], memiliki kucing yang bernama Hudson.
- Sir Walter Scott: Penyair dan Penulis [1771 – 1832]. Pengarang Rob Roy dan Ivanhoe ini amat menyukai kucingnya yang bernama Hinx. Katanya, kucing ini memiliki hobi meneror anjing sang penulis.
- Alexander Dumas, pengarang The Three Musketeers, memiliki kucing bernama Mysouff. Kucing ini dianggap Dumas ajaib lantaran bisa memprediksi kapan tuannya bakal selesai bekerja, bahkan saat Dumas kerja lembur larut malam.
- Charles Dickens memiliki kucing betina bernama Willamena. Tadinya Dickens tidak mau memelihara anak-anak Willamena, tapi kemudian Dickens jatuh cinta pada salah satu bayi kucing betina yang kemudian dikenal sebagai “Master's Cat.” Ia selalu menemani Dickens bekerja. Kalau sedang menginginkan perhatian Dickens ia akan mematikan lilin Dickens.
- Edgar Allan Poe memiliki kucing belang tiga bernama Catarina dan menjadi inspirasi Poe akan “The Black Cat”. Saat Poe masih miskin dan istrinya sekarat karena TBC, Catarina akan naik ke tempat tidur dan menghangatkan istri Poe.
- T.S. Elliot pernah membuat satu buku puisi bertema kucing dengan judul “Old Possum's Book of Practical Cats"
- Ernest Hemingway pernah memiliki 30 kucing.
- Selain di atas, yang termasuk daftar penulis pecinta kucing adalah Mark Twain, Victor Hugo, Charles Baudelaire, Samuel Butler, Paul Gallico, H.H. Munro, Walter de la Mare, Thomas Hardy, Edward Lear, Lewis Carroll, Beatrix Potter, dan W.B. Yeats.
- Untuk Indonesia, penulis yang mencintai kucing adalah Primadonna Angela, (tambah nama kamu di sini....)
Sumber: http://www.catquotes.com/famouscatlovers1.htm
Surat permisa ini tampil di sebuah koran nasional kemarin. Isinya membuat saya tergelitik untuk menanggapinya. Siaran televisi di negeri ini penuh sesak dengan racun konsumerisme, kekerasan, dan pornografi. Susah mencari tayangan yang edukatif sekaligus menghibur, khususnya untuk segmen anak-anak.
Satu dari yang sangat sedikit itu adalah Surat Sahabat. Tayangan TransTV ini selain memberi wawasan yang kaya akan budaya daerah-daerah di Indonesia, juga sangat imajinatif karena selalu menampilkan petualangan-petualangan hebat yang dilakoni anak-anak di berbagai pelosok negeri. Kemasannya pun menarik, terutama narasi yang seolah mewakili isi surat seorang sahabat. Sungguh, saya sempat jatuh cinta pada Surat Sahabat dan menjadikannya tontonan yang hardly recomended untuk anak-anak saya.
Tapi episode yang tayang 8 Maret 2007 tentang kehidupan seorang bocah Sumbawa yang bercita-cita jadi joki nasional membuat saya kecewa. Betapa tidak, episode ini dengan vulgar menayangkan kebiasaan anak-anak Sumbawa berburu, memasak, dan mengonsumsi logot. Asal tahu saja, logot adalah bahasa tempatan untuk menyebut tikus tanah.
Prosesi membakar logot sebelum mengolahnya menjadi masakan rica-rica lalu menyantapnya dengan lahap sungguh tayangan mengerikan, terutama bagi kami, orangtua Muslim yang dengan susah payah mengajari anak-anak kami tentang halal dan haramnya suatu makanan. Pada episode-episode lalu, Surat Sahabat juga pernah menayangkan anak-anak daerah yang bertualang memburu, memasak, dan mengonsumsi biawak.
Kami minta TransTV lebih hati-hati. Di luar pengawasan orangtua, anak-anak mudah menirukan adegan-adegan yang dilihatnya di televisi. Kami sangat tidak menginginkan anak-anak kami memakan logot hanya untuk meniru petualangan seorang sahabat.Untuk paragraf pertama, saya setuju dengan penulis surat ini. Memang terlalu banyak tayangan di televisi yang sangat tidak mendidik bagi anak-anak. Bahkan kalau dihitung-hitung, jauh lebih banyak yang tidak mendidik dibandingkan dengan yang mendidik. Dan untuk paragraf kedua. Hardly recomended? Artinya Anda tidak akan merekomendasikan acara ini untuk ditonton anak Anda? Hmm.... fully recommended kali? Kenapa nggak pakai sangat direkomendasikan saja sih? Kembali ke masalah semula (Saya tidak akan memakai kata laptop seperti Tukul,  !) Sejujurnya, saya tidak melihat di mana salahnya menampilkan anak-anak Sumbawa yang memburu logot dan memakannya. Kalau memang itu kebiasaan mereka, adat mereka, apa salahnya? Saya kira tayangan seperti ini justru membuka ruang diskusi bagi anak dan orang tua. Anak-anak harus paham bahwa tidak semua orang mengikuti halal dan haram seperti konsep Islam. Di luar sana ada orang yang makan babi, minum anggur, dan juga.... tikus. Tapi, bukan berarti kita harus mengikuti mereka, bukan? Orang tua juga bisa membimbing anak tentang masalah toleransi. Bahwa meskipun di luar sana ada orang-orang yang tidak mengikuti label halal haramnya Islam, kita tetap harus menghormati mereka. Atau orang tua lebih suka melihat anaknya tumbuh sebagai anak yang berpikiran sempit, yang kalau melihat orang berbeda sedikit saja langsung dibom? Menurut saya terlalu jauh kalau anak-anak akan mengikuti sahabatnya berburu tikus dan memakannya. Terus terang, saya lebih khawatir anak-anak merengek minta makan di MacDonalds (yang tidak baik untuk kesehatan anak-anak) gara-gara kebanyakan nonton iklannya atau berani memukul orang tua gara-gara kebanyakan nonton Hidayah. Kemungkinan anak Anda minta MacDonalds, percayalah, jauh lebih besar daripada Anda menangkap basah anak Anda menguliti logot.
Pagi ini, saya lagi iseng nggak punya kerjaan. *Ditimpuki dari belakang* Oke. *melindungi kepala dengan panci pinjaman dari dapur* Mungkin nggak benar-benar kosong. Di sebelah kanan saya udah ada tiga baris tumpukan naskah yang belum dikoreksi. Di sebelah kiri saya ada desain cover dan naskah yang kudu segera balik ke setting. Daripada pusing mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu, mendingan mainan internet dulu kan? *Dihajar rudal dari belakang* Iseng-iseng browsing, saya akhirnya menemukan kuis tentang karakter saya seperti apa di dunia sains fiction. Kayaknya udah banyak banget kuis sejenis, tapi tetap saja saya nggak bisa menahan diri untuk mengisinya. Dulu, saya dikatain punya karakter Wolverine. Kalau sekarang, apa ya? Jreng...Jreng...Jreng.... 
Luke SkywalkerBoldly striving to overcome the darkness both in this world and within yourself,
you are righteously devoted to forging your own destiny.
It's your choice, but I warn you not to underestimate my powers.
Luke is a character in the Star Wars universe. For more information, see his
character entry at the Star
Wars Databank. Kok saya dapat yang ini? Saya kan lebih suka bapaknya! Anakin Skywalker aka Darth Vader. Huhuhuuuu...... *Terdengar tertawa bahagia dari sebelah*
Dari dulu, saya paling sebel dengan orang yang merusak tata bahasa. Coba aja nyalakan televisi dan coba amati komentar dari politisi atau pejabat angkatan tua, niscaya suatu saat akan keluar komentar yang senada dengan kalimat ini. “Kita berhasil menangkap daripada penjahat.” Kalau sudah mendengar kalimat seperti itu, otomatis saya berteriak di depan TV. “Aduh, Pak. Saya nggak ikutan nangkap penjahat! Kenapa pakai kata kita? Kata 'daripada' juga dipakai untuk membandingkan dua hal!” Suatu hari di bulan Oktober, teman saya mengirimkan email kepada saya. Ada beberapa kalimat yang membuat saya tercenung. "Secara lo kucing sih sebenernya gue rasa lo ga perlu make tali pengaman." "Kalau $20 gitu kayaknya gue mendingan beli di Kino, deh. Secara cuma 80-100rb rupiah." "Gue belum nanya Yaya secara akhir-akhir ini gue jarang online and jarang ketemu dia juga." Eh? Apa? Kok? Secaranya ini binatang apa? Sel-sel kelabu saya mulai bergerak dan terusik. Seumur-umur, saya nggak pernah melihat pemakaian tata bahasa seperti ini. Lantaran situasi tidak memungkinkan, saya baru sempat menengok kamus sekarang (setelah menemukan pemakaian kata 'secara' yang tidak pas dalam proporsi besar) dan menemukan pemakaian secara yang benar. se.ca.ra p 1 sebagai; selaku: hendaklah kamu bertindak ~ laki-laki; 2 menurut (tt adat, kebiasaan, dsb): perkawinan akan dilaksungkan ~ adat keraton; 3 dgn cara; dng jalan: perselisihan itu akan diselesaikan ~ damai; diperlakukan ~ tidak adil; 4 dengan: hal itu diuraikan ~ ringkas; serangan itu dilakukan ~ besar-besaran. Di sebelah mana kata 'secara' bisa menggantikan 'karena'? Saya nggak anti bahasa gaul. Saya masih toleran dengan pengejaan kata bahasa Inggris yang dituliskan dalam bahasa Indonesia (seperti kata ilfil) atau bahasa Indonesia yang disingkat (aku menjadi aq) selama diterapkan dalam konteks yang benar. Walau saja masalahnya berbeda kalau sudah menjadi naskah. Tapi, penggunaan secara secara tidak benar ini membuat saya kesal karena penggunaannya yang tidak pas. Gaul boleh aja, tapi jangan sampai ngerusak tata bahasa, dong! Pembahasan lain tentang kata 'secara'.
Pengen tahu kamu itu jenis penulis kaya' apa? Cobain deh quiznya. What kind of writer are you?
01. One book that changed your life: Belum ada. tapi gue berharap, suatu saat ada orang yang nulis buku gue sebagai buku yang mengubah hidupnya. ^_^ 02. One book that you’ve read more than once: Kamus Besar Bahasa Indonesia.
03. One book you’d want on a desert island: notebook aka laptop. ^_^ 04. One book that made you laugh: Komik Garfield. 05. One book that made you cry: Tadinya mau nulis 'nggak ada', tapi pikir-pikir lagi, buku yang gue edit sekarang bisa bikin gue nangis. Nangis darah, malah. 06. One book that you wish had been written by you: Semua bukunya Charles Dickens. 07. One book that you wish had never been written: Buku yang gue edit sekarang. Harusnya ada hukuman buat penulis yang bikin editornya menderita lahir batin. 08. One book you’re currently reading: Ursula Le Guin - The Earthsea Quartet Audrey Niffenegger - The Time Traveller's Wife Neil Strauss - The Game 09. One book that you’ve been meaning to read: Semua novelnya Agatha Christie. Karena Agatha Christie, gue jadi suka banget ama cerita misteri. 10. First book that you’ve read: Dulu Gramedia pernah ngeluarin buku-buku kecil pengetahuan umum sampai puluhan seri gitu. Lupa apa judulnya, tapi gue seneng banget. Salah satunya yang gue suka adalah cerita tentang Thomas Alfa Edison.
Kali ini, kita main lucu-lucuan aja.
Soalnya saya lagi malas nulis dan malas nyari bahan buat nulis. Tapi, main-main dari forum dan juga nonton di youtube, ada satu hal lho yang menarik untuk ditonton.
Coba deh yang ini.
http://www.youtube.com/watch?v=v5QUnbXj0dM
Dan temukan alasan kenapa sinetron Indonesia selalu menarik untuk ditertawakan.
Bagi gue, tulisan itu seperti anak. Gue akan merawat, membersihkan, beri makan, sampai akhirnya menjadi gede dan cakep. Kalau sudah begitu, gue dengan senang hati membanggakannya pada dunia. Kalimat “ini lho tulisan gue” sama bangganya dengan ngomong, “ini lho anak gue”.
Dan dalam kenaifan gue, gue berpikir kalau semua penulis bakal seperti gue. Karena itu, sebagai editor gue berusaha hati-hati dalam menangani naskahnya. Mungkin seperti ibu yang menerima anak titipan. Biarpun itu anak awalnya jelek, belepotan, lumutan, kudisan, bahkan udah sampai tahap di mana gak ada yang mau, gue tetap menerimanya. Apalagi kalau itu perintah bos. He..he… Satu satu tuh lukanya gue rawat, gue perbaiki, gue dandanin hingga pantas dipamerkan pada dunia. Rasanya, ada kepuasan sendiri melihat hasil editan gue berjajar dengan buku-buku lainnya di rak buku.
Tapi sekarang, begitu buku itu dikembalikan ke penulis untuk direvisi, gue kaget banget. Kenapa revisiannya jadi berantakan begini? Emang sih lumayan banyak yang direvisi mengingat buku terakhirnya nggak up-to-date. Tapi itu kan bukunya dia, kenapa nggak berusaha memperbaiki tulisannya? Adanya malah gue yang kudu pontang-panting berusaha menjaga agar revisi dia kelihatan bagus.
Istilahnya kalau di dalam kapal tuh, gue udah capek-capek memperbaiki dasar perahu yang bocor. Eh, dia yang tinggal naik ke atas kapal malah ngambil kapak dan membocorkannya lagi. Sialan! Apa dia nggak tahu di atas kapal ini nggak ada pelampung?
Melihat ini gue jadi berpikir lagi. Apa sebenarnya gue yang terlalu baik? Emang kalau melihat awalnya, naskahnya benar-benar suck dan gue yang pontang-panting mendandani. Habis kalau nggak digituin, buku itu gak bakal layak terbit sementara bos maunya terbit cepat. Bisa aja gue cuek menerbitkan buku itu, tapi pada akhirnya gue kalah pada prinsip gue sendiri. Gue gak tega ama yang baca. Mereka udah capek-capek keluar duit buat beli buku. Gue ingat gimana jengkelnya gue kalau membaca buku yang berantakan dan gue nggak ingin orang yang membaca buku gue merasakan hal yang sama.
Tapi kalau begini terus, capek hati sendiri rasanya.
Ada gak sih sinetron ramadhan yang layak ditonton tahun ini? Yang gak pake gebuk-gebukan, gak rebutan harta dan gak pakai adegan mata melotot. Tahun lalu (2005), saya terhibur lho dengan kehadiran Kiamat Sudah Dekat dan Demi Masa. Itu tuh yang saya sebut sinetron Islami, sinetron yang bikin damai. Sinetron yang ketika melihat, kita nggak melihat jilbab dan koko sebagai simbol baju, tapi kita melihat permasalahan orang Islam pada umumnya. Nggak perlu adegan gebuk-gebukan untuk menunjukkan si antagonis itu biadab. Nggak perlu adegan bersimbah air mata untuk menunjukkan si protogonis itu menderita. Tahun ini, adakah? Soalnya saya pulang pas maghrib dan saat malam, jadi saya gak sempat mengamati sinetron Ramadhan tahun lalu. Udah gitu kalau nggak sibuk tarawih, saya sibuk ngejar deadline. Yang saya tahu dari sini, sinetron Ramadhan sih masih sama aja seperti yang dulu. Tapi, kalau ada yang layak tonton, saya sisakan waktu, deh.
| |