Waktu menunjukkan pukul sembilan malam saat saya pulang dari body balance di Plaza Semanggi. Saya berdiri di dekat flyover UKI sembari menanti T58 yang nggak muncul-muncul juga. Meskipun saya baru saja selesai dari olahraga, badan saya tidak merasa fresh. Mungkin karena otak saya penuh dengan pikiran. Mungkin juga karena siangnya saya mendapat teguran dari atasan dan saya sedang mempertanyakan banyak hal dalam hidup saya. Saat itulah kemudian saya menangkap sesuatu tergantung tak jauh dari tempat saya berdiri. Tali putih? Rafia? Siapa yang memasang tali rafia di tempat aneh seperti ini? Untuk memasang apa? Saya mengamati lebih lanjut. Mata saya mengikuti tali itu hingga ke ujungnya di atas sana. Oh, my! Bukan tali! Akar! Ini adalah akar pohon!
Saat itu, saya merasa takjub. Di atas saya yang merupakan flyover, berdiri sebuah pohon dengan akarnya menjuntai hingga melewati pipa. Akar yang luar biasa panjang (menurut saya) untuk pohon yang begitu kecil. Posisi pohon itu bahkan aneh menurut saya. Di atas (atau di samping) pipa yang jelas-jelas bukanlah tempat yang bagus untuk hidup pohon. Akan tetapi, pohon itu tetap hidup. Dengan segala kesulitan ia tetap bertahan hidup.
Pada saat itu, saya sedikit malu pada pohon itu. Look at him (or her). Pohon yang hidup di tempat aneh itu saja tetap bertahan hidup. Dia nggak mengeluh (emang pohon bisa mengeluh? he..he..). Dia hanya menjalani dan bertahan hidup.
Saya tersenyum kecut pada diri sendiri. Apa yang saya jalani apa bisa dibandingkan dengan dia? Dia tidak bisa ke mana-mana. Dia hanya bisa di situ, mencari apa yang di sekitarnya dan bertahan apa adanya. Sedangkan saya?
Saya tidak berlama-lama di tempat itu (masa mau semalaman di situ, nek?) Saya menghentikan sebuah mikrolet. Saya merasa lebih baik sekarang.