 | Category: | Books | | Genre: | Religion & Spirituality | | Author: | Rhonda Byrne |
Mungkin nggak ada buku yang lebih bikin heboh dunia setelah Da Vinci Code dan Harry Potter selain The Secret. Berbeda dengan dua judul pertama yang merupakan fiksi, The Secret adalah buku non fiksi. Rhonda Byrne, pengarangnya, yang berasal dari Australia, mengaku bahwa ia telah menemukan rahasia sukses besar orang-orang terkemuka seperti Leonardo da Vinci, dan yang lain-lain.
The Secret melihat bahwa di dunia ini ada hukum yang sama kuatnya dengan hukum gravitasi. Hukum ini sudah lama berlangsung dan akan terus berlangsung sampai kiamat nanti. Hukum ini yang memengaruhi hubungan alam dan manusia (beserta nasib manusia). Hukum ini adalah hukum tarik menarik (Law of Attraction).
Intinya adalah alam akan merespon semua pikiran dan tindakan kita. Kalau kita mikirnya positif, alam juga akan merespon positif. Tapi sebaliknya, kalau kita mikir jelek-jelek, alam juga akan merespon jelek. Jadi yang nggak kita harapkan (tapi karena kita pikirkan terus menerus) malah jadi kenyataan.
Dalam satu sisi sih buku ini bagus karena mengajarkan positif thinking (biarpun bukan hal baru). Dia juga ngajarin pentingnya fokus dalam sesuatu. Kalau kamu pengen dalam duit semilyar, kamu kudu fokus pada uang itu. Dia juga ngajarin pentingnya ikhlas, berserah diri, dan meditasi.
Tapi dalam beberapa hal menurut saya agak kebablasan. Dia membuat perandaian dunia ini seperti katalog. Jadi istilahnya kita tinggal pesan ke alam, dan barang itu pasti sampai. Terus terang, ada momen di mana hati saya membuncah begitu membaca kalimat itu. Saya mau pesan satu rumah di Bali, satu rumah di London, dan satu di Paris. Ditambah lagi mobil VW Beatle, paket liburan ke seluruh dunia dan.....suami yang ganteng dan setia!
Akan tetapi ketika otak saya mulai bekerja, saya mulai sebal sendiri. Mana mungkin itu terjadi kalau nggak usaha? Tuhanpun mengatakan nasib sebuah bangsa tidak akan berubah sampai mereka berusaha untuk mengubahnya.
Nah, di sini dia kurang memfokuskan bahwa agar barang itu dapat, kita kudu usaha. Barang nggak turun dari langit, gitu. Seperti ada kasus penulis yang pengen dapat duit 1M. Sama gurunya, ia disuruh menulis cek 1M itu untuk dirinya sendiri. Jadilah dia nulis, terus ditaruh di lemari sambil percaya, suatu saat ia akan dapat uang 1M itu. Waktu berlalu, dan akhirnya dia dapat ide yang diwujudkan dalam buku. Akhirnya dia berhasil dapat duit 1M itu. Penulis itu adalah Jack Canfield, si penulis Chicken Soup.
Nah kelemahan di the secret itu adalah penulis the secret 'lupa' atau memperkedil usaha Jack Canfield. Kalaupun dalam ide seharga 1M, nggak ada artinya kalau Jack males nulis. Dan proses dari sebuah ide jadi buku itu adalah proses yang lambat dan menyakitkan. Nggak bisa sekedar berharap terus langsung dapat duit 1M.
Selain itu pernyataan bahwa orang gemuk bisa kurus hanya karena memperhatikan orang kurus juga sedikit berlebihan. Memang, memperhatikan bentuk ideal yang kita inginkan bisa memotivasi orang untuk menurutkan berat badan. Akan tetapi, itu bukan satu-satunya faktor. Kalau cuma ngeliatin foto Angelina Jolie tiap hari, tapi tetap makan makanan berlemak dan tidak olahraga ya mana mungkin bisa turun?
Jadi? Saya pikir Rhonda pintar dalam mengemas bukunya. Ia bukan saja menciptakan buku yang amat cantik lay-outnya, tapi juga video pendamping, dan mungkin yang paling penting, berhasil menembus Oprah. Ia bisa mengolah sebuah ide lama menjadi suatu hal yang seakan-akan baru. Ia menebar mimpi bagi banyak orang yang mungkin too good to be true. Saya sendiri ingin jadi bagian dari pasukan pemimpi ini, seandainya tidak ada pecut yang tiba-tiba muncul dan berkata pada saya, "kerja!"   | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Nggak bisa dipungkiri bahwa salah satu misteri paling menarik di muka bumi ini adalah segitiga bermuda. Beragam teori sudah dituangkan untuk menjelaskan di balik segitiga bermuda, mulai dari alien, atlantis, medan elektromagnetik, sampai teori konspirasi. Berangkat dari misteri ini juga, Bryan Singer (X-Men) membuat miniseri tentang petualangan sekelompok ilmuwan yang dibayar oleh seorang juragan kapal yang kaya (Eric Benirall) untuk memecahkan misteri segitiga bermuda.
Untuk sebuah miniseri TV, menurut saya The Triangle nggak asal aja dalam memainkan special effect. Efek badai yang dibuat dan yang lain-lain lumayan ciamik menurut saya. Akan tetapi, miniseri yang bagus bukan tergantung hanya pada special effect, tapi juga cerita -suatu hal yang menjadi kelemahan The Triangle.
The Triangle dibuka dengan pertanyaan besar bagaimana sebuah kapal modern milik Benirall yang hilang di segitiga Bermuda bisa kembali begitu saja, dengan 11 mayat krunya yang lebur plus ketambahan satu mayat dengan salib abad ke lima belas di dadanya. Benirall ingin penjelasan akan apa yang terjadi. Karena itu ia rela membayar mahal kalau ilmuwan yang disewanya mampu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Maka mulailah perjalanan empat ilmuwan yang terdiri atas Eric (Howard Thomas) wartawan pakar segitiga Bermuda yang skeptis, Emily (Catherine Bell) pakar laut dalam (or something), Stan si paranormal (Bruce Davison) dan Bruce (Michael E. Rodgers) professor cuaca yang gila petualangan.
Meskipun alur cenderung lambat pada awalnya, misteri dan ketegangan cerita sebenarnya lumayan terjaga, terutama setelah para tokoh mengalami semacam "alternate reality" setelah menyelam dekat pesawat yang baru saja jatuh di segitiga Bermuda. Kejadian yang sama juga dialami oleh Meeno (Lou Diamond Phillips) yang bingung membedakan antara kenyataan dan khayalan setelah kapal dan krunya kandas dalam kecelakaan misterius di wilayah segitiga Bermuda.
Sayangnya, misteri ini langsung lenyap begitu muncul pemerintah. Yup, sudah ketebak arahnya ke mana, kan? Teori konspirasi. Sudah begitu, cerita berakhir terlalu cepat dan terlalu mudah sehingga meninggalkan banyak pertanyaan. Apa yang terjadi dengan Helen (satu-satunya survivor dari pesawat jatuh itu)? Lalu kenapa mendadak Stan bisa hidup kembali pada akhirnya? Kalau Stan hidup, bagaimana dengan Karl Sheedy?
Pada akhirnya, nilai The Triangle yang bisa empat bintang terpaksa saya pelorotkan menjadi hanya tiga. Tapi, The Triangle tetap pantas ditonton, kok. Terutama buat saya yang lagi mengisi waktu sambil menunggu kapan Lost 4 dimulai. Haaaah..... *menghela nafas*   | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Apa yang kamu lakukan kalau kamu kelebihan berat badan (banget) dan kamu hidup di dunia di mana kecantikan dan kelangsingan berdiri di atas bakat?
200 Pounds of Beauty bertutur tentang seorang gadis overweight bernama Kang Hanna. Kang Hanna memiliki suara emas, tapi karirnya mentok sebagai operator telepon esek-esek serta penyanyi dubber untuk penyanyi top Korea (yang suaranya pas-pasan), Ami. Meski sering dilecehkan Ami yang cantik dan langsing, Hanna tetap bertahan karena ia jatuh cinta pada manajer Ami, Sang Jun. Apalagi, San Jun memperlakukan Hanna dengan baik dan penuh hormat. Hanna percaya cinta masih tersedia bagi gadis bertubuh overweight seperti dia. Namun, pendapat ini runtuh begitu mendengar bahwa Sang Jun hanya ingin memanfaatkan Hanna untuk mendongkrak karir Ami. Hanna kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu yang drastis, operasi plastik.
Dari segi tema, sebenarnya saya lumayan menyukainya. Ide tentang kegemukan, operasi plastik, dan penerimaan masyarakat sangat menarik untuk dijadikan bahan cerita. Sayangnya, justru konflik operasi plastik ini yang kurang ditekankan di dalam cerita. Saya suka ketika Sang Jun mengatakan bahwa ia menghargai perempuan yang melakukan operasi plastik asal bukan pacarnya. Tapi kemudian, Sang Jun terasa mudah untuk menerima Hanna.
Kemudian, ide pengakuan Hanna tentang operasi plastiknya di konsernya sendiri malah membuat film ini terasa cheesy. Apalagi penontonnya begitu mudah memaafkan Hanna dan memintanya terus bernyanyi. Segampang itukah masyarakat menerima penyanyi yang menjalani operasi plastik? Kalau memang semudah itu, untuk apa segala macam kontroversi tentang operasi plastik ini?   | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
Sekitar dua tahun yang lalu, saya jatuh cinta pada sebuah komik berjudul Nodame Cantabile. Tidak sering saya menemukan cerita tentang anak-anak yang berjuang di dalam dunia musik klasik, disajikan dengan gaya yang lucu dan dipenuhi dengan karakter-karakter yang ajaib. Apalagi, komik ini dipenuhi dengan istilah-istilah teknis musik klasik. Duh, saya semakin salut. Cuma, ada satu kurangnya. Karena komik, saya jadi nggak tahu gimana 'bunyi'-nya. Gimana Nodame (tokoh utama komik ini) 'merusak' lagunya Debussy atau Mozart.
Makanya begitu saya tahu Nodame dibuat doramanya, wah saya langsung mikir, "Ternyata Tuhan itu memang ada!" Hehehe.......
Baik, mari kita bicarakan doramanya saja. Nodame Cantabile dimulai dengan ketakutan seorang pianis dan conductor wanna be bernama Chiaki Sinichi (Tamaki Hiroshi). Ia merasa sudah waktunya ia pergi ke Eropa untuk mempertinggi ilmunya, tapi ia terpaksa stuck di Japan gara-gara ia punya fobia naik pesawat. Chiaki kemudian bertemu dengan Noda Megumi (Ueno Jiro) yang memiliki bakat luar biasa dalam bermain piano namun hanya bercita-cita menjadi guru TK (dan kemudian juga bercita-cita menjadi istri Chiaki).
Pertemuan Chiaki dengan Nodame dan teman-teman baru seperti Mine (Eita), Masumi (umm... gak tahu siapa), dan guru super ajaib, Stressmann, membawa Chiaki ke dalam dunia yang diimpikannya, dunia konduktor. Tapi jalan menjadi seorang konduktor tidaklah mudah. Apalagi ketika Chiaki diserahi tugas memimpin orkestra yang berisikan anak-anak gagal di kampusnya.
Secara keseluruhan, saya amat menyukai dorama yang satu ini. Bukan hanya karena dorama ini setia dengan semangat manganya, tapi juga karena adanya chemistry yang kuat antara para pemainnya. Tamaki Hiroshi dan Ueno Jiro sama-sama bagus dalam menerjemahkan karakter Chiaki dan Nodame (meskipun Ueno menurut saya terlalu cantik untuk jadi Nodame) yang suka menampilkan ekspresi yang menurut saya, cuma ada di komik. Begitu juga dengan pemain-pemain lainnya. Rasanya saya jarang menemukan dorama di mana hampir semua pemainnya bermain dengan apik.
Dorama ini juga berhasil menghidupkan gaya bermain Nodame yang dengan sesuka hati mengubah partitur. Meskipun banyak dikritik lantaran pemainnya kurang gape dalam bermain alat musik, saya sudah cukup salut, kok. Menghidupkan dorama semacam ini kan bukanlah pekerjaan yang gampang.
Kalaupun ada yang dikritik dari dorama ini adalah terlalu seringnya flashback masa lalu Chiaki dan Nodame yang traumatik. Sekali dua kali sih tidak apa-apa. Tapi berkali-kali.... duh.... saya sampai bisa menebak adegan apa yang muncul berikutnya. Kemudian ada beberapa adegan yang saya harap muncul, tapi ternyata tidak ada. Seperti waktu Nodame berdansa waltz dengan Chiaki. Tapi, saya cukup mengerti karena adegan itu memang tidak terlalu penting.
Saya masih berdo'a supaya dorama ini dibuat season duanya. Saya sedikit pesimis lantaran settingnya ada di Paris. Tapi, yah... siapa tahu sekali lagi Tuhan mau membuktikan pada saya bahwa Dia memang ada. Heheeee..... *makhluk gak tahu diuntung*
  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Pernah dengar sychro swimming atau renang indah? Lebih jauh lagi, pernah dengar tentang renang indah cowok? Kalau nggak pernah, tenang aja, kamu nggak sendirian. Ketika pertama kali mendengar ide cerita waterboys, kayaknya aneh banget. Renang indah cowok? Bakal seperti apa? Apa isinya cuma pameran cowok-cowok pakai celana renang? Atau pameran cowok-cowok melambai yang pakai celana renang? Apa yang saya temukan di waterboys, ternyata, lebih dalam dari itu.
Dikembangkan dari versi movienya tahun 2001, waterboys bercerita tentang perjuangan lima cowok agar dapat mempertunjukkan renang indah di sekolah mereka pada porseni aka festival sekolah. Tokoh utamanya, Shindo Kankuro (Yamada Takayuki) adalah sosok loser dalam tim renang indah sekolah. Jabatan kapten yang diperolehnya gara-gara sistem undian untuk menentukan pemimpin. Tahun lalu, Shindo gagal tampil di festival sekolah lantaran diare tepat beberapa saat sebelum tampil. Tahun ini, keinginan Shindo untuk tampil terhalang lagi. Sekolah menutup tim renang indah gara-gara anak-anaknya jadi pada lupa belajar dan nggak ada anak-anak renang indah yang sukses.
Shindo sendiri pada awalnya tidak begitu tertarik untuk memperjuangkan tim renang indah sampai akhirnya muncul Tatematsu Norio (Moriyama Mirai) yang semangatnya seperti gabungan antara pejuang '45 dan Energizer's Bunny. Bersama, mereka mendirikan kembali tim renang indah. Tentu saja nggak gampang karena nggak ada yang berminat menjadi anggota tim mereka plus adanya tentangan dari pihak keluarga dan sekolah, serta sang ketua OSIS, Tanaka Masatoshi (Eita). Bahkan, setelah susah payah, mereka hanya mampu merekrut dua orang, Takahara Go (Ishigaki Yuma) yang takut air dan Ishizuka Futoshi yang nggak pede dengan badannya.
Yang membuat Waterboys menarik adalah melihat bagaimana lima orang (Tanaka nanti akhirnya bergabung demi meraih simpati cewek yang disukainya) berjuang untuk meraih mimpi mereka sekali seumur hidup. Bukan itu saja, cara mereka saling mendukung dan menghargai membuat kita sadar bahwa memang ada hal-hal yang lebih penting dari kemenangan.
Saya juga senang melihat bagaimana anak-anak Waterboys berjuang mencapai apa yang mereka dengan cara yang benar. Ketika mereka dilarang untuk tampil karena dianggap pertunjukkan mereka mengganggu lingkungan, mereka berupaya mencari sukarelawan yang mau membantu menyukseskan acara mereka. Tidak sekalipun mereka terlihat membenci sekolah atau orangtua karena kemauan mereka dihalangi. Saya salut dengan tayangan semacam ini. Jadinya nggak merasa bersalah deh nonton cowok ngumbar aurat. ^_^
  | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
Sebagaimana layaknya anak-anak yang lahir di akhir zaman 1970an, saya tidak begitu akrab dengan Badai Pasti Berlalu. Rasanya dulu banget memang pernah diputar di televisi, tapi saya sama sekali nggak ingat isinya tentang apa. La wong zamannya SD gitu lho. Satu-satunya film yang nempel di pikiran saya hanyalah G30S/PKI (sumpah! Itu film traumatik banget buat anak SD!)
Yang membuat saya akrab dengan Badai Pasti Berlalu justru music scorenya. Gila, itu aransemen dan syairnya bagus banget. Saking cintanya, saya bahkan minta ibu saya untuk mengirimkan CD album ini pas saya pergi ke negeri tetangga. Makanya, saya nggak sabaran menonton film daur ulang ini. Apalagi yang main cowok simpanan favorit saya, Vino G. Bastian. *meleleh*
Tapi, mungkin saya berharap banyak. Saya lupa, saya masih ada di Indonesia yang industri filmnya-masih-untung-ada-yang-mau-bikin-film. Saya masih terbuai dengan permainan Vino di Realita, Cinta, dan Rock and Roll yang lumayan bagus buat standar film Indonesia. Yang saya temui dari Badai Pasti Berlalu hanyalah pameran adegan yang indah, alur yang lambat atau kecepetan, editing yang bikin bingung adik saya, music score yang ampun-deh-bikin-kuping-sakit, serta akting yang yah... begitu-begitu saja.
Mari kita mulai alur. *ambil pisau bedah, ngedeketin Vino. Pak dokter, butuh bantuan, gak?* Badai Pasti Berlalu berkisah tentang Siska (Rahainuun) yang baru saja patah hati setelah dikhianati kekasihnya. Lalu, datanglah Leo (Vino G.Bastian) yang mendekati Siska hanya demi taruhan dengan teman-temannya. Siska yang akhirnya tahu, merasa dikhianati sekali lagi dan akhirnya memilih menikah dengan Helmy (Winky) yang menikahi Siska demi motif uang juga. Setelah tahu kelakuan Helmi, Siska balik lagi ke Leo.
Salah satu masalah yang mengganggu saya adalah masalah alur. Di awal cerita, ditampilkan kisah tentang Siska lagi patah hati. Ya, saya ngerti. Tapi apa perlu ditekankan berkali-kali sampai menghabiskan waktu sekitar 10 menit demi menasihati Siska agar keluar dari patah hatinya? Tolong, deh. Lebih lucunya, kalau emang Siska adalah tokoh yang suka berlarut-larut dengan patah hati, kok gampang banget ya Siska memaafkan Leo yang sudah ngerjain Siska demi uang. Cukup Leo datang, ngomong sebentar, meraih tangan Siska, tamat deh. Iya, cinta emang memaafkan. Tapi kalau saya jadi Siska, saya akan ikat Leo, saya lempar dulu ke atas mulut sepuluh ikan hiu baru deh saya maafin. Selain itu, salah satu alasan kenapa Siska mau menikah dengan Helmi adalah karena ia tidak mau skandal perselingkuhan ayahnya ketahuan oleh ibunya dan membuat ibunya kena serangan jantung. Tapi, di akhir cerita, sepertinya masalah ini menguap begitu saja.
Kostum yang dipakai Siska juga dua kali mengganggu saya. Yang pertama saat ia memakai baju kebaya pas pernikahan adiknya. Ampun deh itu giwang. Anak orang kaya tapi kenapa pakai giwang pinjaman-dari-tukang-rias-yang-udah-satu-paket-ama-sewa-baju-pagar-ayu begitu? Belum lagi baju ala Yukata (?) yang malah bikin dia seperti pelayan restoran Jepang. Satu-satunya kostumnya yang pas justru pas pemakaman. Saya suka baju serba hitam serta kacamata bingkai hitamnya yang bikin dia kelihatan gaya. Hehehehe... anak boleh mati. Ibu harus tetap gaya.
Soal adegan, sebenarnya saya lumayan suka. Saya suka adegan Siska bertengkar dengan Leo kemudian Siska teringat kembali momen saat ia menangkap basah kekasihnya yang dulu selingkuh. Lumayan dramatis. Kemudian disusul Leo berlari-lari dalam hujan mengejar Siska. Ck..ck..ck... klise, tapi kok saya tetap suka. Meskipun demikian, ada beberapa adegan yang lumayan annoying. Seperti adegan Siska terbangun dari tidur saat bermimpi bertengkar dengan kekasihnya. Please, deh. Terakhir kali saya mimpi dikejar T-Rex, alien dan orang sekampung yang berubah jadi zombie, saya juga nggak sesyok itu kok. Belum lagi adegan Siska baca buku sambil memainkan ayunan. Mana ada orang bisa baca buku dengan cara seperti itu? Sekalian aja bikin Siska main boogie jumping sambil baca buku!
Overall, Badai Pasti Berlalu ini nggak jelek-jelek amat, kok. Saya nggak bisa membandingkan dengan versi aslinya atau versi bukunya lantaran dua-duanya nggak ketemu. Untuk tontonan sekedar iseng, film ini nggak begitu rugi ditonton. Apalagi kalau nontonnya di bioskop murah seperti saya. Untuk yang nyari Vino, juga gak rugi. Bodinya tambah isi setelah Realita Cinta kemarin. Cuma, jangan salahkan diri kamu sendiri kalau pada akhirnya malah lebih suka pada permainan Winky setelah keluar bioskop.   | Category: | Books | | Genre: | Romance | | Author: | Tere Liye |
Selama ini, buku fantasi Indonesia selalu sukses mengecewakan saya. Sebagian kekecewaan itu, tentu saja, adalah salah saya yang mengharapkan lahirnya Tolkien baru dari genre yang baru tumbuh kemarin sore di Indonesia ini. Tapi, pendapat ini, sedikit berubah setelah membaca novel yang satu ini. Mungkin masih ada masa depan buat genre fantasi Indonesia.
Sang Pemindai, eh Penandai dibuka oleh patah hatinya sang tokoh utama, Jim. Ia jatuh hati pada putri dari negeri antah berantah bernama Nayla. Tentu saja penyatuan hati keduanya tidak akan mungkin lantaran status mereka yang berbeda jauh. Daripada harus menikah dengan orang lain, Nayla akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.
Jim yang melankolis juga ingin bunuh diri, tapi kemudian membatalkan niatnya karena takut mati. Ia kemudian bertemu dengan sosok kakek tua yang menjanjikan satu dongeng untuk Jim. Maka, dimulailah petualangan Jim bersama Armada Kota Terapung yang dipimpin oleh Laksamana Ramirez.
Ide tentang Armada Kota Terapung ini, saya yakin, berasal dari Laksamana Cheng Ho, Laksamana Cina abad ke 14 (?) yang kapalnya begitu besar hingga digambarkan oleh National Geographic sebagai kota terapung. Kebetulan juga, Cheng Ho memiliki tubuh tinggi besar hingga 2 meter. Tentu saja, tidak ada yang salah dengan itu.
Secara keseluruhan, Sang Penandai adalah novel yang cukup menarik. Bahasanya cukup manis dan tidak terlalu cengeng. Ini adalah sebuah contoh bagaimana ide fantasi yang sederhana, dieksekusi dengan cara yang sederhana juga.
Apakah buku ini disarankan? Hmm, begini saja. Kalau kamu suka plot dan karakter yang kompleks seperti saya, buku ini bukan untuk kamu. Kamu nggak akan menemukan karakter ajaib atau twisted plot di sini. Satu-satunya kejutan ada di akhir cerita, tapi itu bukanlah sesuatu yang menyentak. Tapi kalau kamu ingin mencari fantasi yang sederhana, penuh dengan buaian romantis, kamu akan menyukai buku ini.   | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Cast : Nakama Yukie as Naoko Yamada Hiroshi Abe as Ueda Jiro Episodes : @ 10 episode
Nggak banyak drama yang membekas di hati gue. Tapi, lebih nggak banyak lagi drama yang membuat gue begitu menikmati mulai dari seri satu sampai sekuel ketiganya. Bahkan kalau ada sekuel empatnya, dengan senang hati gue tonton sampai habis.
Trick berkisah tentang seorang super genius magician (ngakunya sih gitu) bernama Naoko Yamada (Yukie Nakama) dan seorang pakar fisika bernama Ueda Jiro (Abe Hiroshi) dalam memecahkan kasus supernatural.
Keduanya sama-sama nggak percaya kalau di dunia ini ada yang namanya kekuatan gaib. Pokoknya semua dukun yang ngaku punya kekuatan gaib, ngaku bisa berhubungan dengan roh ataupun menggandakan uang (yang ini jelas-jelas ngaco!) bakal diungkap kebohongannya oleh keduanya.
Yang menarik dari trick adalah selain mengungkapkan trick di balik penipuan , trick juga menonjolkan sifat ajaib karakter-karakter utamanya. Yamada, misalnya, selalu aja kesulitan mendapatkan pekerjaan (meskipun dia jago mengungkapkan kasus) dan punya cara tertawa yang aneh (seperti kuda dan kambing tertawa barengan).
Ueda juga sama aja. Meskipun punya badan super tinggi (Abe Hiroshi itu tingginya 189 cm), tetap aja pingsan kalau ketemu hantu. Ia juga selalu membanggakan title asisten professor dan kemampuannya menerbitkan buku. Padahal, ia suka salah dalam mengambil kesimpulan. Belum lagi ditambah hobinya meledek dada Naoko yang rata (Sebaliknya Naoko suka meledek 'itunya' Ueda yang dianggap kegedean...... ^_^ parah deh joke-nya)
Mungkin perpaduan dua karakter aneh ini yang membuat saya jatuh cinta pada Trick. Biarpun keduanya saling meledek dan menjatuhkan, keduanya juga bekerja sama dan saling membutuhkan (dengan cara yang aneh). Belum lagi ditambah masuknya tokoh-tokoh ajaib seperti Yabe (polisi yang sangat peduli dengan wig rambutnya), induk semangnya Naoko dan pacarnya, serta ibunya Naoko sendiri (cool tapi matre).
Selain itu, tidak banyak drama yang mengangkat tema penipuan digabung dengan komedi. Makanya saya setuju banget kalau ada yang bilang ini adalah gabungan antara X-Files dengan Scooby-Doo.
Kalaupun ada yang bisa dicela dari Trick adalah adanya kesamaan beberapa kasus yang dihadapi Naoko dan Ueda sehingga kita bisa sedikit menebak trick yang dipakai si penipu. Belum lagi 'kebiasaan' untuk mengembalikan ending setiap sekuel ke pulau asal Naoko untuk mempertanyakan kekuatan Naoko yang sebenarnya. Hubungan antara Naoko dan Ueda juga tidak banyak berkembang kecuali pada episode-episode akhir. Tapi di atas semua itu, saya amat menikmati kisah Naoko dan Ueda. Nggak heran kalau kadang-kadang saya ikut tertawa ala Naoko. Eh..eh...hiee..hi..he...he... Tawa saya jadi ikutan aneh, deh.   Wilayah Jakarta Kota emang terkenal surga belanja. Dari glodok yang jadi surga belanja elektronik hingga Mangga Dua yang terkenal miring harga baju, tas, dan lain-lain. Tapi untuk asesoris, cuma di Asemka yang harganya miring. Bahkan lebih murah daripada beli di Mangga Dua.
Lokasi ** Gampang dicapai. Naik busway sampai stasiun kota, jalan sekitar sepuluh menit ke arah flyover jembatan lima. Bisa juga naik kereta api sampai stasiun kota atau bis atau mikrolet yang lewat stasiun kota atau museum bank mandiri. Sepertinya ada mikrolet dari tanah abang yang lewat Asemka, tapi saya nggak tahu nomer berapa.
Jalan kaki dari busway nggak begitu nyaman karena biasanya kudu mengeluarkan jurus kaki seribu buat berkelit dari kejaran angkot, bajaj dan (tentu saja) busway. Sudah begitu, jalan menuju Asemka tidak terlalu nyaman karena tiada pohon pelindung dan trotoar biasanya sudah diserobot pedagang kaki lima.
Tapi semuanya gak masalah kalau kamu bawa mobil sendiri.
Tempat *** Biarpun wujudnya gedung, tapi kondisinya nggak begitu terawat, mirip pasar tradisional minus bau ikan. Yah kira-kira kaya Pasar Pagi Mangga Dua tapi turunin 2 level. Cukup nyaman sih buat saya. Nggak ada AC, jadi kalau sudah terlalu banyak pengunjung lumayan bikin gerah. Ada beberapa toko yang rapi seperti di mall, tapi lebih banyak yang biasa-biasa aja. Oh, ya. Tidak ada tempat sampah.
Keamanan (?) Sejauh ini untungnya belum pernah dicopet. Soal keamanan mobil juga tidak tahu. Tapi seharusnya aman karena pakai model secure parking gitu. Tapi, tetaplah waspada.
Harga ***** Harga? Ho..ho.. jangan ditanya!. Itu tujuan utama saya rela berburu sampai ke Asemka. Asemka tempat yang sempurna bagi yang berniat menjual barang lagi. Selisih harga di Asemka berkisar antara 2 – 3 X lipat, mungkin bisa lebih kalau beli grosir.
Sebagai contoh kalung di Asemka yang dibandrol seharga Rp 25.000,00 bisa naik jadi Rp 60.000,00 (belum ditawar) di ITC Kuningan. Jepit rambut di Asemka yang harganya Rp 12.000,00 jadi Rp 40.000,00 (belum ditawar) di Mangga Dua Mall yang jaraknya hanya sepuluh menit dari Asemka. Bros yang harganya Rp 10.000,00 bisa jadi Rp 25.000,00 di salah satu pameran kerajinan tangan.
Barang **** Asesoris yang dijual di Asemka beragam. Mulai dari kalung, jepit rambut, bros, ikat pinggang, hingga asesoris buat cowok. Ada yang dari plastik, besi, tapi banyak juga yang dari manik-manik. Pokoknya yang kamu lihat di toko asesoris imitasi kemungkinan besar bisa kamu temukan di Asemka. Soal kualitas, mungkin bukan kualitas no.1, tapi sebandinglah dengan harganya. Yang penting, teliti membeli barang supaya gak kecewa.
Pelayanan ** Nggak terlalu ramah. Ada sih beberapa yang ramah (banget), tapi nggak banyak. Malah ada yang ogah-ogahan ngambil barang sampai membuat mood belanja saya hilang. Atau karena saya beli eceran?
Fasilitas Pendukung ** Ada mesjid di bawah fly over. Tempat makan ya adanya kaki lima. Fast Food terdekat (A&W) ada di Stasiun Kota. Walau belum pernah ke toilet, kaya’nya gak disaranin ke sana, deh.
Tips & Trik Belanja
1. Kalau emang mau beli satuan, tanya dulu pada penjaganya, barang dijual satuan atau tidak? Ada beberapa toko yang ogah melayani eceran. Daripada udah capek-capek milih ternyata nggak boleh beli satuan? 2. Semua barang dibandrol berdasarkan harga grosiran. Jadi pakai kemampuan matematikamu untuk menghitung harga satuannya. 3. Kalau bego matematika seperti saya, ya udah tanya langsung aja berapa harga satuannya. Sebuah kalung yang harga satuannya (kalau beli grosir) Rp 10.000,00 dilepas dengan harga Rp 15.000,00 (karena beli satuan). 4. Mau lebih hemat lagi? Bawa teman dan ajak membeli barang yang sama. Kalau beli grosir (minimal 3), harga bisa lebih murah daripada satuan walau mungkin selisihnya gak banyak 5. Kebijakan tiap toko beda. Ada yang mau ngelepas barang kalau beli minimal 3, ada yang maunya jual lusinan, ada juga yang nggak keberatan jual satuan. Keliling aja dulu sebelum ngambil keputusan beli. 6. Datang lebih pagi. Di hari minggu, Asemka mulai ramai sekitar jam 10.30. Saya pernah dikasih harga penglaris. Lumayan.  Dulu, ada masa-masanya saya mencintai sinetron Indonesia, yakni saat Losmen dan Rumah Masa Depan merajai televisi. Lalu, ada momen di mana saya muak dengan sinetron. Seperti saat Tersanjung dibuat amit-amit panjangnya. Saat itu saya sudah patah hati. Saya tidak mau terluka lagi. Lalu hadir Kiamat Sudah Dekat dan Arisan. Pada saat saya mulai bersyukur pada Tuhan akan perbaikan kualitas sinetron Indonesia, sinetron sialan satu ini muncul.
Namanya Benci Bilang Cinta. Bagi penggemar drama korea, Benci Bilang Cinta pasti mengingatkan mereka pada Princess Hours. Bagaimana tidak dibilang nyontek kalau tokoh hingga alur ceritanya sama? Hanya settingnya saja beda karena pembuatnya tidak mungkin mampu membuat dengan setting Korea. Ini kutipan dari reviewnya SCTV.co.id
KEDATANGAN Dimas disambut meriah oleh para mahasiswa baru di kampus. Maklum, mereka penasaran dengan sosok Dimas Subekti, calon ahli waris Bagio Grup alias BG, salah satu dari 10 kelompok bisnis yang berpengaruh di wilayah Asia. Di antara kerumunan mahasiswa, tampak pula Dian, Tike, dan Indah, sahabat baik Winda.
(Di Princess Hours, Cowoknya bernama Shin. Dia pangeran dari Kerajaan Korea. Yup, waktu dia datang pertama kali, sekolah heboh banget. Bisa nggak sih kamu bayangin ada cowok datang ke sekolah kamu disambut heboh banget. Gue nggak percaya itu bisa terjadi di Indonesia kecuali kamu: - selebritis super terkenal di luar negeri yang baru balik ke Indonesia. - baru aja ngebunuh orang. - ketahuan menghamili anak orang) Kutipan: Namun betapa terkejutnya Winda setelah berhadapan dengan Dimas. Pewaris BG itu tidak seperti yang dibayangkannya. Dimas adalah sosok pemuda yang arogan dan sombong. Kenyataan itu membuat Winda menjadi muak.
(Ada adegan si cewek gak sengaja nyiram baju si cowok. Kalau di aslinya, yang cewek nyiram sepatu. Cowoknya jengkel, terus pergi sambil ganti sepatu)
Kutipan: Sementara kondisi Darian, ayah Dimas, belum juga membaik. Rahmayani lantas menyuruh Ayunita, istri Darian, agar mempercepat pernikahan Dimas dengan gadis yang sudah ditetapkan sebagai jodohnya. Meskipun berat, Ayunita meluluskan permintaan ibu mertuanya itu. Ia berjanji akan membawa surat amanat dan cincin ke rumah gadis yang dimaksud.
Di lain tempat, Dimas melamar Claudia, kekasih rahasianya. Sayang, lamaran itu tak bersambut. Claudia memilih untuk melanjutkan sekolah demi meraih cita-citanya. Menikah dengan Dimas berarti membuang impiannya.
Yup, sama persis. Bedanya cuma kalau di BBC, tokoh Claudia adalah pemain biola, sedangkan di aslinya penari balet. Mungkin lebih gampang pura-pura main biola daripada pura-pura nari balet.
Kutipan: Susi dan Kuncoro, orang tua Winda, stres karena dililit hutang. Di tengah keresahan itu, seorang utusan dari keluarga Subekti datang untuk mengantar surat amanat dan cincin yang akan digunakan untuk melamar Winda.
(Idem ditto)
Dimas shock setelah melihat foto seorang gadis yang merupakan calon istrinya. Sementara Winda pun terkejut ketika mengetahui kalau dirinya akan menikah. Terlebih calon suaminya adalah Dimas Subekti.
(Saya lebih syok ketika tahu masih ada orang Indonesia yang tega nyontek drama orang lain dan nggak mau ngaku. Huuu.....Shame on you!)
Para penagih hutang datang ke rumah Winda, dan memporak-porandakan isi rumah. Winda yang merasa terdesak sekaligus terjepit, akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah keluarga Subekti dan menerima lamaran tersebut.
Halah. Sudah tidak tertolong lagi.
Apa gue pernah bilang kalau nyontek itu penyakit? Artinya, kalau sekali aja kamu nyontek, kamu nggak bakal berhenti menyontek. Atau paling tidak, sampai kamu ketahuan guru dan kamu dijemur di lapangan bareng ama ikan asin. Dalam kasus ini, sampai pembuatnya diseret ke pengadilan. Oh, I just can’t hardly wait.  | Category: | Books | | Genre: | Mystery & Thrillers | | Author: | Thomas H. Cook |
Hidup Eric Moore sudah sempurna bagi sebagian besar orang. Ia memiliki usaha sendiri, memiliki istri seorang wanita karir yang sayang keluarga, serta anak lelaki yang selalu patuh. Tapi, saat segalanya terasa sempurna, kehancuran hidup Eric Moore justru mengetuk pintu.
Segalanya diawali dengan menghilangnya Amy Giordano, anak tetangganya disusul dengan tuduhan bahwa anaknya, Keith, adalah pelakunya. Hal ini mengguncang seluruh keyakinan Eric. Eric baru menyadari bahwa ia tidak mengenal putranya sedalam yang ia pikirkan. Keith menyimpan dunia yang tak dapat ia selami. Lebih jauh lagi, masalah ini memaksa Eric untuk memikirkan keluarganya: ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Benarkah ibunya bunuh diri? Rahasia apa yang dipendam oleh kakaknya, Warren? Dan yang paling penting, benarkah Keith menculik Amy?
Sekilas, cerita Red Leaves terkesan biasa-biasa aja. Cuma tentang seorang ayah biasa yang anaknya dituduh menghilangkan anak orang. Hal seperti ini bisa saja terjadi pada diri kita, kan? Tapi kesederhanaan cerita ini yang membuat segalanya menjadi menarik bila diolah dengan seksama. Bagaimana dampak hilangnya seorang anak pada hidup keluarganya? Pada keluarga yang dituduh menculik? Terhadap kehidupan seluruh kota?
Di sini, Cook menunjukkan perannya sebagai peramu cerita yang baik. Ia tidak dengan heboh menunjukkan penemuan mayat, ledakan, teriakan di tengah malam, ataupun darah yang membanjir. Ia cukup membawa kita ke dalam jiwa Eric dan mengikutinya untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Setiap untaian kalimat yang ditorehkan Cook seperti membawa kita naik perahu di sungai kala matahari tenggelam. Tenang, sedikit beriak di bawah perahu, tapi kita tidak tahu ke mana kita akan menuju dan kegelapan seperti apa yang menanti. Dan sepanjang jalan, kita takkan berhenti bertanya, apakah kita telah menaiki perahu yang benar?
NB: Cover versi Indonesia nggak kayak gini. Tapi gue lagi males memindai, tuh. ^_^      | Perfume | Jul 12, '06 1:13 AM for everyone |
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Patrick Suskind |
Parfum apa yang baunya paling enak? Bagi sebagian orang, mungkin bau parfumnya Channel No.5 atau buat cowok parfum buatan Armani. Tapi bagi seorang Jean Baptiste Grenouille, parfum yang paling enak adalah parfum dengan aroma perawan.
Sejak lahir, Jean Baptiste Grenouille bukanlah manusia biasa. Dia nggak punya bau tubuh. Hal ini dianggap aneh, soalnya pada waktu itu (1738), Paris tuh diceritakan bau banget. Sampah dan mayat bergelimpangan di mana-mana. Pokoknya kalau dibandingin Bantar Gebang, bisa jadi Bantar Gebang bakal dapat Piala Adipura. Dan seperti biasa, anak yang aneh bakal dicuekin. Apalagi Grenouille jelek tampangnya. Yah, kira-kira gabungan antara Gargoyles dan Gollum di Lord of the Ring.
Tapi Tuhan emang adil. Meskipun jelek, Gollum eh Grenouille dikasih hidung dengan penciuman luar biasa dan daya tahan yang kuat. Orang dia kena antrax aja nggak mati. Mungkin kalau zaman sekarang, dia bisa dipakai untuk ngebantuin membasmi flu burung. Atau hidungnya yang super tajam bisa dipakai untuk memburu teroris. He..he...
Balik lagi ke cerita. Karena sejak kecil terbiasa hidup keras, Grenouille hidup hanya untuk hidup. Satu-satunya kesenangan baginya hanyalah menghirup aroma dan memilah-milahnya. Dan tempat mana yang paling bisa membuatnya senang? Tentu saja toko parfum. Karena itu Grenouille bertekad bekerja di toko parfum Baldini. Dengan cepat, parfum buatan Grenouille terkenal ke seluruh Paris. Tapi seluruh parfum bestseller buatannya gak sebanding dengan satu aroma yang paling enak di dunia, aroma perawan. Inilah yang akhirnya membawa Grenouille dari satu pembunuhan ke pembunuhan lainnya.
Secara keseluruhan, novel ini menarik banget lantaran mengangkat tema yang gak umum. Cerita pembunuh itu memang banyak. Kriminal membunuh karena alasan-alasan yang aneh juga banyak. Tapi gabungan antara obsesi akan parfum, kejeniusan, pribadi yang bikin kita kasihan sekaligus kagum, latar belakang cerita yang gak umum, akan menghasilkan satu cerita yang menarik untuk dibaca dari awal sampai akhir. Alur cerita juga mengalir meski deskripsinya kadang-kadang sedikit keterlaluan panjangnya. Masa cuma untuk berburu bau perawan saja menghabiskan enam halaman? Mungkin kalau gue editornya sudah gue babat jadi satu halaman saja.
Yang jelas, setelah baca cerita ini, kamu bakal jadi sensitif ama bau-bau di sekitarmu. Apa benar manusia punya bau seperti keju asam? Seperti apa bau kerikil, kaca jendela atau porselen? Coba tarik nafas dalam-dalam dan nikmati. Siapa tahu bau kentut nggak separah yang kamu pikirkan. He..he...   | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Peringatan: Banyak spoilernya!
Gue berangkat nonton Superman Returns karena dua hal: mengenang masa kecil saat gue tergila-gila pada Christopher Reeves (waktu kecil, menurut gue dia cowok paling ganteng selain Marco van Basten dan Goggle Black) serta rasa penasaran atas celaan resensi Kompas Minggu, 2 Juli 2006. Banyak banget kritik yang diberikan atas film satu ini hingga gue berpikir apakah Kompas benar-benar kritis atau ingin disebut ‘galak’ gara-gara dicela situs sinema-indonesia.com?
Okelah. Kita mulai aja ceritanya. Cerita dibuka dengan baliknya Superman dari kampungnya. Nggak tahu apakah Superman nyasar di langit, keasyikan main bola di kampungnya, atau kawin lagi ama cewek sono, pokoknya dia baru balik setelah lima tahun.
Untungnya, setelah cuti lima tahun, bosnya di Daily Planet ngasih lagi kerjaannya (gilingan, bosnya baik banget, ya). Cuma di luar dugaan Superman, Lois Lane udah keburu digaet cowok lain dan punya anak (Hayo tebak, anak siapa coba).
Patah hatinya Superman untungnya nggak dilampiaskan dengan cara membuat gempa bumi atau menyemburkan lumpur panas. Biar hati nangis bombay, dia menutupinya dengan cara menolong orang-orang yang kesusahan. Yang paling keren, tentu saja saat ia menolong pesawat Lois yang jatuh. Dramanya sangat terasa, meskipun endingnya ketebak. Superman menahan moncong pesawat yang berdiri vertikal. Mirip ama adegan Magneto menahan pesawat X-Men di X-Men 1. Kok bisa sama, ya? *Ngelirik nama sutradara*
Lalu masuklah tokoh penjahat kita, Lex Luthor. Lex emang jahat, tapi dia nggak menyebalkan. Nggak kayak penjahatnya Punjabi yang dikit-dikit tertawa terbahak-bahak sambil berteriak dengan mata melotot, “Superman, rasakan pembalasanku. Hua…ha..ha..ha..”
Ada saat di mana Lex tampil manusiawi. Seperti saat ia mundur seperti tikus ketakutan waktu mencoba kristal Superman pertama kali atau saat ia gosok gigi dan kaget waktu Lois Lane nyelonong masuk ke kapalnya. Mungkin dia mau ngomong, “Lah loe belum gue culik kok udah nyetor body duluan?”
Sayangnya kekaguman gue pada Lex amblas saat sadar kebodohannya. Dia kan pengen ngebangun benua baru dari kristal yang dicurinya dari gua Superman. Nah, nggak mikir apa kalau tanah seluruh dunia berubah jadi benua berkristal, dia mau nanam padi di mana? Mau beternak ayam di mana? Mau main bola di mana?
Lois Lane juga sama begonya. Pertama, dia membawa anaknya masuk ke dalam kapal Lex Luthor tapi meninggalkan HP-nya di mobil. (Kenapa nggak melakukan sebaliknya? Atau lebih gampangnya, emang gak ada hari esok untuk wawancara?) Kedua, dia tetap saja tidak bisa melihat persamaan Clark Kent dan Superman (tapi dari dulu dia emang begini, gue bisa bilang apa?). Malah pinteran anaknya ataupun tunangan Lois Lane yang sempat ngomong, “Superman tuh tingginya berapa?” “Sekitar 1,93m,” kata Lois Lane. Ngelirik Clark Kent. “Nah, si Clark ntuh brape tingginye?” “Sekitar 1,9 m.” Keduanya melirik Clark yang tersenyum bego, terus tertawa berdua. “Kayaknya nggak mungkin, deh.” *Mukul kepala Richard dan Lois Lane berbarengan* Please, deh Lois.
Superman juga nggak luput dari ‘kesalahan’. Misalnya rambut dan jambul ‘S’nya itu nggak pernah rusak meskipun terbang dengan kecepatan tinggi (pakai hairgel apaan, sih Mas?). Meskipun demikian, Superman tetap saja nggak rugi ditonton. Selain tampang gantengnya Brandon Routh, banyak adegan cantik yang bikin kita terwow-wow atau tertawa kecil saat mendengar kalimat-kalimat menggelitik dari tokoh-tokoh di Superman.
Superman juga membuat gue kembali ke masa lalu, saat Superman rajin ngintipin rumahnya Lois Lane (untung dia Superman, kalau nggak pasti dia sudah digebukin orang sekampung) atau saat mereka berdua terbang bersama (Jadi ingat, dulu pengen terbang dengan Superman. Eh, sampai sekarang masih, kok ^_^).
Memang internal conflict Superman nggak sedasyat Spiderman atau Batman, tapi tetap saja saat kita keluar dari bioskop, kita akan berkata seperti Kitty saat Lex mencoba kristal untuk pertama kalinya, “Wow, that’s amazing, Lex.” (diulang dua kali dengan nada datar).
Sembari keluar dari bioskop, gue nggak sabar untuk menunggu Superman selanjutnya. Gue harap di Superman berikutnya (apa ya namanya? Superman Minggat? Superman Mudik Melulu?), dia memakai seragam superman yang tanpa jubah, plus menggandeng sutradara Tim Burton. Sampai saat itu tiba, biarkan gue membayangkan terbang dengan Superman, ya. ^_^  Jadi, sementara gue lagi nggak begitu banyak pekerjaan, gue memutuskan untuk menyelinap keluar dari kantor (bersama gerombolan ibu-ibu RT kantor) buat nonton Bobo Fair dan Nova Fair di JCC.
Sebenarnya gue nggak begitu tertarik ama fair-fair jenis begini. Bobo Fair paling isinya tentang segala macam barang buat anak-anak (iyalah. What do you expect gitu lho) dan Nova Fair berisi tentang stuff untuk ibu-ibu.
Gue berharap ada banyak barang yang dijual untuk kaum perempuan seperti gue di Nova Fair. Harapan gue sedikit meleset. Emang banyak stuff buat cewek, tapi kebanyakan gak begitu menarik. Masih lebih keren saat INACRAFT kemarin.
Kalau di Bobo Fair, sih ya namanya juga tempat jualan untuk barang anak-anak. Ya isinya seperti itu. Makanan, mainan, makanan (lagi), dan teh botol sosro (lho?).
Kalau kamu emang ibu-ibu yang pengen ngajak rekreasi anak, bolehlah main ke sini. Tapi kalau cuma iseng, kayaknya agak sayang mengingat masuknya aja bayar Rp 10.000,00. Mendingan belanja di mall aja. Toh harga barang-barangnya sama.
BTW, ada satu kelompok stan di Nova Fair yang namanya Anjungan Artis. Di situ ada butik-butiknya para artis. If you are lucky, kamu bisa mendapatkan artis yang mangkal di sana. Gue sempat ketemu Baim Wong, si cakep di sinetron menyebalkan. Mau minta tanda tangan, malu oii....^-^ (merasa sudah bukan ABGeh lagi...) Rasanya lucu bagaimana sebuah kotak kecil bisa mendatangkan kebahagiaan bagi seseorang. Tapi itulah yang terjadi pada diri saya saat pulang kantor menemukan sebuah kotak coklat dengan tulisan Amazon.com.
Huaaa.... pesanan saya akhirnya datang!
Dua minggu yang lalu, saya memesan buku koleksi Amazon.com. Dari Amazon? Bukan. Tepatnya dari juraganbuku.com.
Ini adalah situs baru yang membangun jaringan dengan Amazon.com. Lalu apa hebatnya? Bukannya mendingan belanja langsung ke Amazon? Ya kalau kamu punya kartu kredit. Sebagai salah satu makhluk anti uang plastik, gue sudah cukup pusing dengan sistem numpang kartu kredit teman setiap kali ingin belanja di Amazon.
Juraganbuku.com mencoba memecahkan masalah ini dengan cara menyediakan layanan jasa perantara antara kita dengan Amazon. Caranya, kita bayar uang melalui transfer ke juragan, dan juragan akan bayar ke Amazon. Amazon mengirim buku ke kita.
Sejauh ini, gue puas banget belanja di juraganbuku. Jangan tanya soal harga, ya karena harga masih ditambah dengan harga pengiriman per paket dan per buku. Hasilnya, harga yang dibandrol bisa di atas harga toko buku. Itupun dengan catatan kalau buku yang kamu inginkan ada di toko buku.
Sebagai catatan, gue pernah memesan buku lewat QB dengan harga Rp 220.000,00. Sementara di juraganbuku dibandrol dengan harga Rp 127.000,00 (belum termasuk shipment charge). Belum lagi masa menunggu di QB sekitar satu bulan, sementara di juraganbuku cukup dua minggu. Di antar sampai ke rumah, lagi!
Jadi kalau kamu butuh buku impor dan nggak menemukannya di toko buku semacam Kinokuniya, Aksara, or QB, Juraganbuku.com adalah alternatif yang bagus.  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Kalau kamu jadi artis, cara apa yang kamu pakai untuk menjadi terkenal dengan cara cepat? Bikin skandal? Tidur dengan suami orang? Ngelabrak rumah istri mudamu? Hoo... itu sudah gak zaman lagi. Jang-saeng (Kam Woo-seong), seorang seniman jalanan punya cara lain yang lebih heboh untuk menjadi terkenal.
Alkisah pada zaman Korea kunak (kuno banget dah...), Jan-saeng yang baru aja dibuang ama kelompoknya memutuskan untuk pergi ke ibukota bersama sahabatnya Gong-gil (Lee Joon-gi) yang bishounen abis. Tapi, hidup memang gak mudah di ibu kota. (Dari dulu ya, ibu kota memang lebih kejam daripada ibu jari). Jan-saeng akhirnya punya ide gila yang dia yakini bakal banyak mendatangkan uang. Bersama kelompok barunya, dia membuat drama pertunjukkan yang menghina habis-habisan kelakuan raja Yeonsan (Jeonng Jin-yeong) dan selirnya, Nok-su (Kang Seong-yeon).
Kelakuan ini tentu saja bikin marah pejabat setempat. Mereka dicambuk sampai punggung mereka merah-merah seperti habis kerokan. Daripada mati konyol, Jan Saeng akhirnya membuat perjanjian dengan sang pejabat. Kalau mereka bisa bikin raja tertawa setelah melihat pertunjukkan mereka, mereka harus dibebaskan.
Nasib baik memang sedang berpihak pada mereka karena tanpa diduga, Raja tertawa terbahak-bahak. Mereka bebas? Ho, nggak juga karena raja minta dihibur setiap hari. Bukan menghiburnya yang jadi masalah. Orang rajanya tuh gampang banget dihibur. Istilahnya, biasanya raja dihibur pakai tarian daerah ala TVRI lalu mendadak dikasih hiburan Extravaganza. Wah ya jelas beda banget.
Masalahnya tuh usia mental raja nggak lebih dewasa dari anak usia 15 tahun. Masa’ abis didongengin cerita tentang pejabat yang korup, dia pikir pejabatnya benar-benar korup dan langsung dibunuh. Woi, pak, ini sinetron, bukan reality show! Nggak heran kalau kelakuan ajaib raja ini bikin Jan-Saeng, Gong-gil, dan yang lainnya makin stress.
Keajaiban kelakuan raja semakin bertambah setelah raja malah napsu ngeliatin Gong-gil dan nggak peduli lagi ama selirnya. (Lihat photo di atas) Yaelah.. sapa juga yang gak napsu ngeliatin tampangnya. Sahabatnya, Jan-Saeng khawatir. Dia tuh ngebawa Gong-gil pergi dari kota mereka dulu untuk kabur dari para lelaki hidung belang, eh... di istana malah ketemu ama raja hidung belang. Gimana gak sewot!
Secara keseluruhan, ceritanya cukup menarik dan lumayan gak umum. Kita dibuat penasaran kelakuan ajaib apa yang akan dilakukan raja. Akting paling menarik memang datang dari Jeonng Jin-yeong, yang main sebagai raja. Tapi pencuri hati terbaik, he..he..he...Lee Joon-Gi, dong! Dia mampu membuat gue bersyukur karena gue dilahirkan sebagai perempuan. Karena kalau gue laki-laki dan gue suka dia, namanya homo, dong! Ho...Thanks God, I’m a woman!   | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Udah lama banget gue nggak nonton jenis film remaja. Terakhir kali gue nonton mungkin pas zaman Mayangsari nawarin uang 1 milyar ke wartawan kalau bisa ngebuktiin dia punya affair dengan Mr. You Know Who-lah. Atau mungkin pas zaman suara cempreng Shandy Aulia dan akting batunya Samuel Rizal dianggap keren. Pokoknya dah lama banget,deh.
Ditambah lagi pengalaman gue nonton film remaja tuh nggak menyenangkan. Me vs High Hell ups... Heel, Eiffel I’m in love, pokoknya jenis-jenis film yang menimbulkan trauma, deh.
Tapi pandangan gue sedikit bergeser dengan hadirnya film garapan Australia yang diangkat dari novel garapan Robin Klein (1984) ini.
Erika Yurken (Saskia Burmeiser) adalah anak pintar yang merasa jatuh ke dalam neraka. Teman-temannya preman dan rumahnya gak beres. Punya kakak perempuan yang bitchy sekaligus preman, adik laki-laki yang ngomong sama tanaman, adik perempuan yang selama tujuh tahun merasa dirinya adalah kuda, dan ibunya yang mau kawin lagi dengan supir truck. Pelarian Erika cuma ke drama. Dia yakin kalau dia bisa jadi Juliet di acara camp, dia bakal terkenal dan orang-orang bakal memperhatikan dia.
Masih ngerasa biasa? Gimana kalau kita munculkan tokoh Alison Ashley (Delta Goodrem) yang udah kaya, cakep, pinter lagi. Bete banget, kan? Nah itu yang dirasakan Erika. Meski bersahabat dengan Alison, Erika sirik banget ama Alison. Apapun yang dilakukan Alison selalu dianggap sebagai usaha buat ngalahin Erika.
Bagusnya film ini adalah cerita ini bukan tentang usaha Erika buat ngejatuhin Alison, tapi lebih ke sudut pandang Erika yang semaunya sendiri dan selalu ingin kelihatan sempurna. Coba bayangin kalau film ini bikinan Punjabi. Udah deh, si Alison bakal kena air keras (How to beat your enemy in sinetron style. Rule #5), atau Alison bakal bangun dengan cowok di sampingnya (Rule #3), atau ibunya Alison bakal dibunuh supaya bapaknya menikah dengan ibu baru yang super kejam. (Rule #1).
Cacatnya film ini, menurut gue, ada pada saat adegan di camp. Anak-anaknya yang terkenal badung-badung itu kok gampang banget ya diatur Erika. Terus juga, meskipun gue suka banget ama tokoh Barry Hollier (Siapa juga nggak suka ama bad boy yang nyuri pakaian dalam guru pas mandi atau ngebakar kamar ganti perempuan pas cewek-cewek pada ganti baju, terus sneak out dari kamar hanya untuk mencium si cewek?), gue masih nggak ngerti kenapa dia kok suka ama Erika. Padahal dari awal dia ngedeketin Alison.
Tapi dengan segala kekurangannya, film ini cukup bagus kok. Cukuplah buat ngebuang trauma suara Shandy Aulia yang cempreng itu.
NB: Foto di atas tuh adalah adegan favorit gue, saat Barry Hollier (Alex Capelli) diguyur pakai snack oleh Erika gara-gara ngeledek. My favorit line? Barry ngomong ke Erika setelah diguyur, “Oh you so want me!” Gya ha..ha... dalem banget.   | Category: | Books | | Genre: | Childrens Books | | Author: | A. Widyamartaya dan Vero Sudiati |
Teman-teman, hari ini kita akan menebak judul sebuah cerita. Baca potongan paragraf di bawah ini dan tebak judul ceritanya, ya?
“Saya dengar Aslan sedang bergerak –barangkali sudah mendarat.” Dan sekarang sesuatu yang aneh terjadi. Anak-anak itu tidak ada yang tahu siapa Asalan. Ketika Berang-berang itu berkata demikian tadi, setiap orang merasa menjadi berbeda. Seperti terjadi di dalam mimpi.
Hayo tebak judulnya apa? Apa? Yang di belakang sana? Kamu bilang apa? Chronicle of Narnia? The Lion, The Witch, and the Wardrobe? Ho..ho..ho….. tertawa gabungan antara penyihir jahat plus ibu tiri* Kalian semua salah besar. Karena teks di atas sebenarnya diambil dari buku yang berjudul persis saya tulis di atas.
*Mendengar suara nafas tertahan secara massal. *
Benar sekali! Ladies and Gentlemen, we do have a serious case here. Namanya plagiat. Penyakit berbahaya ini semula diperkirakan hanya berada di sinetron televisi. Tapi ternyata sudah menyebar lebih besar daripada yang kita perkirakan. Penyakit ini juga menyebar ke fiksi. Buku ini adalah buktinya. Mari kita baca bersama-sama.
"Nunung, Nuning, Yuyun, dan Ningrum adalah empat sekawan yang senang berpetualang. Pengalaman-pengalaman baru dan aneh selalu mengasyikkan mereka.
Cerita berikut mengisahkan pengalaman-pengalaman elok mereka ketika tinggal di sebuah rumah besar milik seorang Bangsawan Keratong. Rumah Bangsawan ini terletak di desa Adikarta."
Hmm… orang yang polos seperti saya tentu saja tidak mengira ini sebuah plagiat. Cerita seperti ini bisa berkembang ke arah mana saja kan? Makanya, saya luar biasa terkejut ketika menemukan paragraf seperti ini: Ningrum membuka lebar pintu almari itu. Ternyata almari pakaian. Ia melihat beberapa mantel yang terbuat dari bulu tergantung di dalam almari…. Ia merasa dapat masuk lebih ke dalam. Ia terus melangkah…. Sembari berharap tangannya akan menyentuh suatu seperti papan kayu. Tetapi, heran ia, tidak pernah ia menyentuhnya.
Tidak lama kemudian, ia merasakan sesuatu menerpa wajahnya… “He, sepertinya cabang-cabang pohon!” seru Ningrum…. Tidak berselang lama, ia menyadari dirinya berada di tengah-tengah hutan, pada waktu malam hari, dan sedang turun hujan salju.
Ya ampun! Ini kan ceritanya C.S. Lewis! Kemudian saya membolak-balikkan buku untuk memastikan dugaan saya dan menemukan ‘kesamaan’ yang luar biasa banyaknya. Empat tokoh C.S Lewis (Peter, Susan, Edmund, dan Lucy) diganti dengan nama Nunung, Nuning, Yuyun, dan Ningrum. Negeri Narnia diganti dengan Negeri Kirana. Professor Kirke diganti dengan Raden Mas Wigita. Mr. Tumnus diganti dengan nama Tumino. Turkish Delight yang dimakan Edward diganti dengan ayam panggang. Aslan tetap Aslan (Sayang sekali, saya ingin nama Aslan diganti dengan nama lain. Asmuni, misalnya).
Bahkan penulisnya tidak repot-repot mengganti plotnya. Dari pertama kali masuk ke dalam lemari, pertemuan dengan faun, pertemuan Edmund aka Yuyun dengan Sang Ratu, hingga ramalan tentang anak adam dan hawa, semuanya sama persis. Luar biasa! Saya tidak mengira ada orang yang memiliki keberanian luar biasa untuk menjiplak salah satu literatur cerita anak paling terkenal di dunia!
Dan Anda tahu dampak buku ini terhadap hidup saya? Buku ini mampu membuat saya merasa semua buku sampah yang pernah saya baca naik peringkat menjadi buku emas. Semua keanehan plot, kekakuan karakter, ketidakjelasan bahasa, dan kesalahan lainnya yang saya temukan dalam buku-buku itu saya maafkan karena buku ini melakukan dosa paling besar dalam dunia perbukuan. Menjiplak hasil karya orang lain dan mengakui sebagai hasil karya sendiri. Bahkan di mata saya Tinkerbell, anjingnya Paris Hilton yang ‘ikut menulis’ mendadak terlihat seperti Shakespeare. Paling nggak Tinkerbell nggak nyontek!
NB: Yah, setidaknya buku ini tidak diberi judul Singa, Dukun Santet, dan Lemari Baju.   | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Paris Hilton (?) with Merle Ginsberg |
Tidak ada orang yang lebih menarik untuk dibicarakan karena tingkah lakunya yang ajaib (baca: bodoh) selain Paris Hilton (dan juga George W. Bush). Dan ia bangga akan itu. Bahkan setelah dua tahun setelah peluncuran buku ini, Paris Hilton masih relevan untuk tetap dibahas.
Jadi apa isi buku ini? Ringkasnya buku ini bercerita tentang gaya hidup Paris Hilton yang serba wah, serba nomer satu, serta serba sesuka hatinya. Ia memberikan beragam tips yang tidak masuk akal untuk menjalani hidup bak anak milyuner atau dalam istilahnya, heiress.
Beberapa tips yang saya anggap absurd adalah lahir di dalam keluarga yang tepat. Tips bodoh? Memang. Dalam logika Paris Hilton, menjadi seorang pewaris artinya selalu bisa memilih. Dan Paris Hilton memilih lahir di keluarga Hilton. Kalau ternyata lahir bukan di keluarga kaya, berbohonglah. Hmm… jangan-jangan dia memang hanya ngaku-ngaku seorang Hilton? Kenapa belum ada orang Hilton yang menuntut?
Yang menarik adalah tips-tips yang diberikan memang menjelaskan mengapa seorang Paris bisa tampil seperti sekarang. Tips lain yang ia berikan adalah jangan memakai baju yang ada di majalah. Hanya orang biasa yang memakai baju dalam majalah. Sekarang saya mengerti mengapa ia bisa tampil dengan baju-baju yang tidak akan dipakai oleh manusia normal.
Menjadi seorang heiress bagi seorang Paris Hilton adalah berlaku sesuka hatinya. Tidak pernah bangun sebelum jam 10, Tentu jangan salahkan dia kalau ia menulis buku sesuka hatinya. (Tentu saja saya tidak percaya buku ini karyanya. Kalau buku ini memang karyanya, untuk apa ada nama Merle Ginsberg di bawah namanya?)
Buku ini juga membanggakan prestasi tampil di TV, majalah, dan catwalk. Ia bahkan merasa merubah dunia fashion dengan menjadi socialite pertama yang berjalan di atas catwalk. Apa dia lupa mencantumkan bahwa ia juga menjadi heiress Hilton pertama yang menjadi terkenal karena skandal seks?
I don’t always want the glamorous jet-set life, begitu katanya. Ia merasa ia berubah menjadi lebih serius dan lebih dewasa. Itu dua tahun yang lalu. Hingga hari ini, kita tidak melihat Paris yang baru. Kita masih melihat ia berjudi habis-habisan di Las Vegas ataupun nyaris mati tersetrum di kolam. Nggak heran kan kalau dia masuk daftar orang paling bodoh se Amerika Serikat.
Tapi itulah seorang Paris. Dari skandal seks hingga kasus aku-terjun-ke-dalam-kolam-dan-nyaris-mati-tersetrum, Paris adalah bukti hidup bahwa orang bisa menjadi terkenal karena melakukan sesuatu yang bodoh atau tanpa melakukan sesuatu yang penting.
A grown up Paris? Rasanya, bila hal itu terjadi kita semua akan berhenti membicarakannya.   | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Paris Hilton |
Saat malam minggu kemarin jalan-jalan ke Gramedia Plangi, gue menemukan buku tentang Paris Hilton. Bukan buku Confession of an Heiress itu atau buku Confession of an Heiress's Dog (sayang banget. Gue pikir Tinkerbell pasti bisa bikin buku yang lebih menarik daripada majikannya), tapi lebih parah lagi, buku diary Paris Hilton. Judulnya: Your Heiress Dairy. Oh My God!
Bener-bener ada orang di dunia ini yang bikin buku diary seperti itu? Gue nggak keberatan kalau Paris Hilton menghancurkan diri sendiri. Tapi masalahnya, ngapain juga dia ngajak perempuan lain untuk terjun ke jurang yang sama dengan dirinya?
Maksud gue, kata heiress atau pewaris tahta itu sendiri sudah sesuatu yang kamu dapat dari lahir. You are either born as heiress or hairless. Lagipula... ih, kayaknya gak penting banget ini buku!
Tahu nggak apa yang bakal didapat dari buku seharga kurang lebih 200.000 ini? Gambar Paris Hilton di mana-mana lengkap dengan berbagai macam formulir yang kudu diisi seperti: -kata mutiara favorit kamu -tipe cowok ideal -tempat belanja favorit plus berbagai macam quotation Paris Hilton sendiri yang gak mutu seperti "Cute Guys Make The World Round." Oh, please deh.
Kalau itu tidak cukup masih ada bagian belakang buku ini di mana ada tempat kita bisa menempelkan muka monyet dengan muka teman yang dipeluk Paris.
Tapi tentu saja, siapa juga yang bisa menyalahkan dia karena gak bisa bikin quotation yang pintar, orang prinsipnya dia: “I don't really think, I just walk.” 
| |